Minggu, 28 Desember 2008

AKAR ITU YANG MENOPANG KAMU


AKAR ITU YANG MENOPANG KAMU
Pemahaman Tentang Teologi Kembali Ke Akar Ibrani
[Rm 11: 16-24]
MENGAPA KEMBALI KE AKAR IBRANI?
Akhir-akhir ini, istilah “Back to the Hebraic Root”, [Kembali ke Akar Ibrani] telah
menjadi suatu istilah yang fenomenal dan bersifat khusus dikalangan Kekristenan.
Namun tidak banyak orang Kristen yang memahami betul essensi dibalik istilah
tersebut. Kebanyakan hanya memahaminya sebatas mempersoalkan penggunaan
nama sesembahan agama lain yaitu Allah yang tercantum dalam Kitab Suci Kristiani
dan menuntut penyebutan nama Yahweh sebagai nama sesembahan yang benar.
Demikian pula penggunaan nama Mesias yaitu “Yahshua” atau “Yeshua”,
dibandingkan dengan “Yesus”. Apakah demikian batasan “Back to the Hebraic
Root?” Kajian berikut hendak mengupas secara seksama essensi “kembali ke akar
Ibrani”, sebagai bagian dari agenda pembaruan gereja di seluruh dunia, termasuk di
Indonesia.
Yang menjadi persoalan adalah, mengapa gereja sebagai komunitas umat beriman
yang memenuhi panggilan keselamatan Mesias, perlu untuk kembali ke akar Ibrani?
Paling tidak, ada beberapa alasan mendasar yang dapat kita telusuri sbb :
GEREJA TERCERABUT DARI AKAR IBRANI
SEHINGGA MENGALAMI DISORIENTASI SEJARAH
Gereja berakar pada Yudaisme. Kekristenan bukan suatu agama baru melainkan
salah satu sekte dalam Yudaisme yang dinamakan Sekte Netsarim [Kis 11:19; 24:5].
Kesaksian sejarawan Epiphanius dalam bukunya yang berjudul Panarion
menuliskan:
“But these sectarians…did not call. They use not only the New Testament but the
Old Testament as well, as the Jews do…They have no different ideas, but confess
everything exactly as the law proclaims it and in the Jewish fashion-except for their
belief in Messiah, if you please! For they acknowledge both the resurrection of the
dead and the divine creation of all things, and declare that God is one, and that his
son is Yahshua the Messiah. They are trained to a nicety in Hebrew. For among
them the entire Law, the Prophets and the Writings are read in Hebrew as they
surely are by the Jews. They are different from the Jews and different from
Christians, only in the following. They disagree with Jews because they have come
to faith in Messiah; but since they are still fettered by the Law-circumcicion, the
Sabbath and the rest-they are not in accord wirh Christians…they are nothing but
Jews…They have the Goodnews according to Matthew in its entirety in Hebrew. For
it is clear that they still preserve this, in the Hebrew alphabet, as it was originally
written”.1
[Namun sekte ini…tidak menyebut diri mereka sendiri sebagai Kristen, melainkan
Nazarene…akan tetapi, mereka seutuhnya adalah orang-orang Yahudi. Mereka tidak
hanya menggunakan Kitab Perjanjian Baru namun juga Kitab Perjanjian Lama
1 DR. James Scott Trimm, What Is Nazarene Judaism?, 1997, www.nazarene.com
4
sebagaimana mestinya, sebagaimana dilakukan oleh orang-orang Yahudi…Mereka
tidak memiliki pemikiran yang berbeda namun mengakui segala sesuatu secara jelas
sebagaimana Hukum menerangkannya dan dalam pola pikir Yahudi-terkecuali
kepercayaan mereka terhadap Mesias, jika engkau berkenan! Sebab mereka
mengakui baik kebangkitan orang mati maupun penciptaan ilahi segala sesuatu,
serta keesaan Elohim dan Putra-Nya Yahshua ha Mashiah. Mereka dilatih secara
menyenangkan dalam bahasa Ibrani. Bagi mereka, baik Torah, Kitab Para Nabi dan
Tulisan hikmat dibaca dalam bahasa Ibrani sebagaimana dilakukan oleh orang-orang
Yahusi pada umumnya. Mereka berbeda dengan orang-orang Yahudi maupun
dengan orang-orang Kristen, hanya dalam cara pelaksanaanya saja. Mereka tidak
sependapat dengan orang Yahudi dikarenakan mereka beriman pada Mesias;
namun dikarenakan mereka tetap mengikatkan dirinya melalui Torah – sunat, Sabat
dan hari perhentian – mereka tidak termasuk dalam Kristen…mereka adalah orangorang
Yahudi…Mereka memiliki Kitab Kabar Baik menurut Matius yang
keseluruhannya berbahasa Ibrani. Hal ini jelas bahwa mereka memelihara kitab ini,
dalam aksara Ibrani sebagaimana ditulis sejak semula]
Senada dengan keterangan diatas, Ray A. Pritz menjelaskan:
“The name Nazarene was at first applied to all Jewish followers of Jesus. Until the
name Christian became attached to Anthiochian non Jews, this meant that the name
signified the entire Church, not just a sect. So also in Acts 24:5 the reference is not to
a sect of Christianity but rather to the entire primitive church as a sect of Judaism”.2
[Nama Nazarene pada mulanya disematkan pada semua pengikut Yahshua yang
merupakan orang-orang Yahudi. Sampai akhirnya nama Kristen menjadi bagian
yang dikenakan pada orang non yahudi di Anthiokia, istilah ini dimaksudkan bagi
keseluruhan gereja dan bukan hanya sebatas suatu sekte. Demikianlah dalam Kisah
Rasul 24:5, petunjuk ini tidak mengindikasikan suatu sekte Kristen melainkan
seluruh gereja purba sebagai sekte dari Yudaisme].
Sekte ini berpusatkan pada ajaran Yahshua yang dipercaya sebagai Nabi, Mesias
dan Putra Yahweh sendiri. Ada beberapa sekte dalam Yudaisme pada Abad I Ms,
spt. “Farisi”, “Saduki”, “Esseni”, “Zealot”. Secara umum, tidak ada perbedaan
diantara Sekte Netsarim dengan Yudaisme pada umumnya, baik dalam Emunah,
Avodah maupun Halakhah. Yang membedakan adalah pemahaman tentang siapa
Yahshua itu? Apakah Dia Mesias yang dijanjikan atau hanya seorang anak tukang
kayu?
Abad ke-II Ms, merupakan suatu era titik balik dalam sejarah gereja. Terjadi
perpindahan dari teologi Palestina yang kongkrit menuju Teologi Greek yang
abstrak.3 Hal ini terjadi dikarenakan semakin banyaknya bangsa non Yahudi yang
menerima Mesias, oleh pemberitaan para rasul. Dalam perkembangannya, gereja
semakin menjauh dari akar ibrani. Realita ini memuncak pada saat Kaisar
Konstantin naik tahta menjadi Raja dan mengubah status Kekristenan dari “religio
ilicita” [agama yang tidak sah] menjadi “religio licita” [agama yang sah]. Peristiwa ini
terjadi pada tahun 312 Ms bersamaan dengan dikeluarkannya Edik Milano, dimana
Kekristenan diubah menjadi agama negara dan orang-orang Kristen Roma diberi
kebebasan penuh dalam melaksanakan peribadahan.3 Semenjak Konstantin dan
seterusnya, gereja non Yahudi semakin menjauh dari akar Ibrani bahkan cenderung
membenci keberadaan Yahudi, sebagaimana dikatakan oleh sejarawan David
2 Nazarene Jewish Christianity, Leiden: E.J. Brill, 1988, p.15
3 Bernhard Lohse, Pengantar Sejarah Dogma Kristen, BPK 1994, hal 51
3 Harry R. Boer, A Short History of the Early Church, Grand Rapids Michigan : William B. Eerdmans
Publishing Company, 1986, p.105
5
Rausch, “The Gentile Church claimed to be the true Israel and tried to disassociate
itself from the Jewish people early in its history”4 [Gereja non Yahudi mengklaim
menjadi Israel yang benar dan mencoba untuk memutus dirinya dari masyarakat
Yahudi dalam sejarahnya]
PENGARUH ANTI SEMIT YANG BERKEMBANG
SEJAK KEKRISTENAN ROMAWI PRA/PASKA KONSTANTIN
Sebagaimana telah disebutkan diatas, bahwasanya sejak Abad ke-II Ms dan
seterusnya, terjadi berbagai perubahan dalam tubuh gereja, khususnya dikalangan
non Yahudi. Berbagai literatur para bapa gereja non Yahudi sarat dengan seranganserangan
dan kutukan-kutukan serta menyudutkan keberadaan orang-orang Yahudi
yang dianggap telah menyalibkan Mesias. Berbagai tulisan tadi mencerminkan sikap
yang paling awal mengenai fenomena yang kelak diistilahkan dengan “Anti
Semitisme”. Sikap-sikap Anti Semit semakin menjauhkan gereja dari akar
keyahudiannya.
DAMPAK TEOLOGI HELENIS
TERHADAP PENAFSIRANG KITAB SUCI
Dalam sejarah gereja, tercatat bahwa ada dua sekolah teologi berpengaruh
dikalangan non Yahudi, yang berpusat di Anthiokia dan Alexandria. Kedua wilayah
ini memiliki pola berteologia yang berbeda. Alexandria cenderung bersikap alegoris
[tafsiran terhadap lambang] dalam menafsirkan Kitab Suci sementara Anthiokia
bersikap Literal [tekstual]. Mereka menerima pola penafsiran warisan Bangsa Greek
yang disebut Hermeneutika yang memiliki berbagai metoda. Salah satu metode
Hermenutik adalah tafsiran alegoris. Tafsir alegoris ini cenderung menyudutkan
posisi Israel secara historis yang tertulis dalam TaNaKh, hanya sebagai simbol atau
lambang dari Israel sejati, yaitu gereja. Pola penafsiran ini, kelak melahirkan istilah
“Replacement Theology” [Teologi pengganti]. Israel diposisikan sebagai bangsa
yang telah gagal memelihara perjanjian dengan Yahweh, sehingga Yahweh
melimpahkan perjanjian yang baru dengan gereja, sebagaimana dijelaskan oleh Hal
Lindsey:
“Using this method of interpretation [allegorical], Church theologians began to
develop the idea that the Israelites had permanently forfeited all their covenants by
rejecting Jesus as the Messias. This view taught that these covenant now belong to
the Church and that it is the only true Israel now and forever. The view also taught
that the Jews will never again have a future as a Divinely chosen people, and that
the Messiah will never establish His Messianic Kingdom on earth that was promised
to them [the Jews]5. [Penggunaan metode penafsiran ini {alegori}, para teolog gereja
mulaai mengembangkan gagasan bahwa Israel telah kehilangan selamanya semua
perjanjian yang mereka miliki dengan menolak Yahshua sebagai Mesias. Pandangan
ini mengajarkan bahwa perjanjian ini dilanjutkan pada Gereja sebagai Israel rohani
untuk selama-lamanya. Pandangan ini juga mengajarkan bahwa orang-orang Yahudi
tidak akan memiliki masa depan kembali, sebagai anak-anak pilihan Elohim dan
bahwasanya Mesias tidak akan pernah mendirikan Kerajaan Mesianik di bumi yang
telah dijanjikan pada mereka].
4 Messianic Judaism: Its History, Theology and Polity, Lewiston, New York: Edwin Mellen Press,
1982, p.13]
5 The Road to Holocaust, New York: Bantam Books, 1989, p.8
6
DAMPAK TEOLOGI HELENIS
DALAM PENERJEMAHAN KITAB SUCI
Teologi Kristen yaang mewarisi alam pemikiran Helenisme [Yunanisasi] yang serba
abstrak dan rasionalistik, berpengaruh terhadap berbagai penerjemahan Kitab Suci
dalam bahasa-bahasa non Yahudi. Sebagai contoh, dalam Kitab Suci terjemahan
berbahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia [LAI],
banyak ditemui berbagai penerjemahan yang buruk yang dipengaruhi cara
berteologi yang Helenistik.
Beberapa contoh terjemahan yang buruk al. “Hukum Torat & Kitab Para Nabi
berlaku sampai zaman Yohanes Pembaptis” [Luk 16:16]. Dibagian lain dikatakan,
“Sebab Kristus adalah kegenapan Hukum Torat, sehingga kebenaran diperoleh tiaptiap
orang yang percaya” [Roma 10:4]. Demikian pula dikatakan, “Kasih tidak
berbuat jahat terhadap sesama manusia, karena itu kasih adalah kegenapan Hukum
Taurat” [Rm 13:10]. Mengenai Torah dan Kasih Karunia, dikatakan, “Sebab hukum
Taurat diberikan oleh Musa tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus
Kristus” [Yoh 1:17]. Mengenai Sabat dijelaskan, “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih
berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Dia meniadakan hari
Sabat,…”[Yoh 5:18]. Dalam perbincangan mengenai adat istiadat Yahudi, dikatakan,
“…karena bukan masuk kedalam hati tetapi kedalam perutnya, lalu dibuang
dijamban? Dengan demikian Dia menyatakan semua makanan halal” [Mark 7:19].
Yang sangat mengejutkat mengenai pembatalan Torah, “Sebab dengan mati-Nya
sebagai manusia, Dia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan
ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru didalam diri-
Nya” [Ef 2:15]. Demikian pula mengenai terjemahan Kitab Ibrani, “Oleh karena Dia
berkata-kata tentang perjanjian yang baru, Dia menyatakan yang pertama sebagai
perjanjian yang telah menjadi tua. Dan apa yang telah menjadi tua dan usang, telah
dekat kepada kemusnahannya” [Ibr 8:13]. Beberapa kutipan kalimat yang
digarisbawahi merupakan terjemahan yang keliru dan bias yang dipengaruhi asumsi
tertentu mengenai keberadaan Torah yang tidak memiliki relevansi dalam Perjanjian
Baru. Beberapa teks yang keliru akan menjadi topik bahasan dalam bab-bab
selanjutnya dari tulisan ini.
NAMA TUHAN YANG TERLUPAKAN
Nama Elohim Pencipta, Yang Esa, Yang Kudus dan Roh ada-Nya, yaitu YAHWEH
[Kel 3:15, Yer 10:10, Yes 42:8, Ul 6:4-5] yang tertulis dalam TaNaKh [Torah, Neviim,
Kethuvim] berbahasa Ibrani, telah diterjemahkan dalam naskah berbahasa Yunani
[Septuaginta]. Dalam naskah Septuaginta, nama Yahweh dituliskan dengan “Kurios”
[ kurios ] yang setara dengan “Adonai” [ ynda ]. Mengapa demikian? Karena sejak
bangsa Israel pulang dari pembuangan Babilon [586 SM], ada suatu larangan yang
ditetapkan oleh para rabbi Yahudi untuk tidak mengucapkan secara literal nama
Yahweh. Sebutan penghormatan untuk menggantikan nama Yahweh adalah Adonai.
Maka naskah Septuaginta yang diperuntukkan bagi komunitas Yahudi di Alexandria,
Mesir yang tidak mengerti bahasa Yahudi, menuliskannya dengan Kurios.
Ketika Kabar Baik mengenai kehidupan, perkataan dan karya Sang Mesias yang
lazim disebut dengan “Euanggelion” atau “Injil” atau “Perjanjian Baru”, disalin
kedalam bahasa Yunani dari bahasa Ibrani, maka setiap penyalin, saat
7
menerjemahkan kedalam bahasa Yunani, mengikuti versi Septuaginta, yang
menggantikan nama Yahweh dengan sebutan Kurios. Tata cara penyalinan seperti
ini memberi dampak bahwa bangsa-bangsa goyim [non Yahudi], tidak lagi mengenal
nama Yahweh. Namun demikian, dalam naskah Ibrani Aramaik versi Shem Tob, Du
Tillet, Crawford, Munster, nama Yahweh muncul dalam keseluruhan Injil. DR.
James Trimm menerjemahkan naskah-naskah tersebut dan dikompilasi dalam
Hebraic Root New Testament Version. Dalam terjemahannya, nama Yahweh
muncul sebanyak 210 dalam keseluruhan Kitab Perjanjian Baru.6 Berbagai
terjemahan Kitab Suci diseluruh dunia, hampir dipastikan mengacu pada naskah
Septuaginta, sehingga dalam menerjemahkan Kitab Suci TaNaKh maupun Besorah
[Injil], tidak memunculkan nama Yahweh, kecuali dalam bagian-bagian perikop
tertentu seperti yang dilakukan oleh King James Version, Revised Standard
Version, dll.7
Namun demikian, tidak semua melakukan langkah yang serupa. Beberapa
terjemahan Kitab Suci ada yang mengacu pada naskah Masoretik dan
memunculkan nama Yahweh seperti yang dilakukan oleh The Jerusalem Bible,
The Interlinear NIV Kohlenberger, American Standard Version. Fakta-fakta
diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa ketika nama Yahweh tidak lagi
dikenal, menyebabkan gereja kehilangan kembali terhadap akar Ketuhanannya yang
berorientasi dalam Yudaisme yang berpusatkan pada Yahweh. Dengan demikian
meratakan jalan bagi konsep Ketuhanan yang abstrak, spekulatif dan rasionalis.
MENGGENAPKAN RENCANA YAHWEH
TENTANG PETOBATAN BANGSA-BANGSA
KEPADA MESIAS IBRANI [Zak 14:12]
Beberapa teks dalam Kitab Zakharia memberikan petunjuk profetik mengenai suatu
kondisi waktu dimana Israel yang telah menolak Mesias dan bangsa-bangsa akan
mendapatkan keselamatan dengan episentrum Yerusalem dan menerima Mesias
Ibrani serta ibadah Yudaik. Disebutkan dalam Zakharia 8:20-23,
“Beginilah Firman Yahweh Semesta Alam: Masih akan datang lagi bangsa-bangsa dan
penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk
kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati Yahweh dan
mencari Yahweh Semesta Alam! Jadi bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa yang
kuat akan datang mencari Yahweh Semesta Alam di Yerusalem dan melunakkan hati
Yahweh. Beginilah Firman Yahweh Semesta Alam: Pada waktu itu sepuluh orang akan
memegang kuat-kuat punca jubah seorang Yahudi dengan berkata: Kami mau pergi
menyertai kamu, sebab telah kami dengar, bahwa Elohim menyertai kamu”.
Disebutkan pula dalam Zakharia 12:10, :
”Aku akan mencurahkan roh pengasihan dan roh permohonan atas keluarga Daud
dan atas penduduk Yerusalem dan mereka akan memandang kepada dia yang telah
mereka tikam dan akan meratapi dia seperti meratapi anak tunggal dan akan
menangisi dia dengan pedih seperti orang meratapi anak sulung”.
6 Teguh Hindarto, Bahasa Tuhan, ANDI Offset, 2004, hal 46-47
7 Misalkan pada Keluaran 6:3 diterjemahkan “Jehovah” sementara di ayat lain tidak. Pertanyaannya :
Jika dibeberapa ayat diterjemahkan Jehovah, mengapa yang lain tidak ?
8
Tidak kurang pentingnya mengenai masa tersebut, sebagaimana dikatakan
dalam Zakharia 14:8-9,16:
“Pada waktu itu akan mengalir air kehidupan dari Yerusalem;setengahnya mengalir
ke laut timur; dan setengah lagi mengalir ke laut barat; hal itu akan terus
berlangsung dalam musim panas dan dalam musim dingin. Maka Yahweh akan
menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu Yahweh adalah satu-satunya dan
nama-Nya satu-satu-Nya…Maka semua orang yang tinggal dari segala bangsa yang
telah menyerang Yerusalem, akan datang tahun demi tahun untuk sujud
menyembah kepada Raja, Yahweh Semesta Alam dan untuk merayakan Hari Raya
Sukkot [Pondok Daun]”.
Beberapa pernyataan profetik tersebut memberikan suatu sinyal peringatan bahwa
ibadah Yudaik yang berpusatkan pada Yahweh Semesta Alam yang telah mengutus
Mesias, Putra-Nya Yang Tunggal akan segera dan sedang terjadi menjelang akhir
zaman. Tentunya kita sebagai bagian dari tubuh Mesias dibumi, ingin terlibat dalam
penggenapan rencana Elohim tersebut dan mengambil bagian dalam rencana-Nya
yang sedang dan akan digenapi secara utuh.
APA ITU AKAR IBRANI?
Dalam tulisan berikut, penulis akan mengulas batasan “Kembali ke Akar Ibrani”,
dalam dua sudut pandang. Dengan menggunakan pendekatan negasi dan
konfirmasi. Dengan menggunakan batasan tersebut, diharapkan pembaca dapat
melihat dari dua sisi, sehingga memperoleh pemahaman yang tepat dan
proporsional.
SECARA NEGATIF:
Bukan Yudaisasi
Kembali ke Akar Ibrani, bukan bermakna melakukan proses Yudaisasi. Apa itu
Yudaisasi? Yudaisasi bermakna pemaksaan pola beragama Yudaisme
sebagaimana dipraktekan oleh beberapa sekte keagamaan Yahudi baik di zaman
pra Mesias [Farisi, Saduki,dll] maupun paska Mesias [Orthodox, Reform,
Konservatif]. Sikap-sikap melakukan Yudaisasi, terekam dalam Kisah Rasul 15:1:
“Beberapa orang datang dari Yudea ke Anthiokhia dan mengajarkan kepada
saudara-saudara disitu: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat-istiadat yang
diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan”.
Sikap beberapa sekte Farisi yang berusaha melakukan Yudaisasi ditentang oleh
Rasul Paul dan Barnabas [Kis 15:2]. Persoalan ini akhirnya diselesaikan dalam
sidang di Yerusalem dan menghasilkan beberapa keputusan penting untuk
dilakukan oleh goyim [non Yahudi] setelah menerima Mesias [Kis 15:20-21].
Meskipun kembali ke akar Ibrani, mengadopsi nilai-nilai Yudaik, namun bukan
bermakna secara telanjang melakukan Yudaisasi dalam berbagai bidang kehidupan
orang beriman.
9
Bukan De-Yunanisasi
Ada kecenderungan kurang sehat akhir-akhir ini dikalangan komunitas yang
mengklaim kembali ke akar Ibrani, yaitu menolak berbagai hal yang berbau Yunani
dalam teks Kitab Suci. Penolakan berbagai pola penafsiran Kitab Suci yang bercorak
Yunani yang telah secara berabad-abad diadopsi dalam berbagai seminari maupun
sekolah Teologi. Menolak keberadaan Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani,
mencerminkan amnesia sejarah dan kurangnya wawasan sejarah tentang
keberadaan dan nilai historis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dalam
memelihara iman dan mempertahankan keberadaan gereja saat ini.
Ketika Paul ada di Atena yang mewarisi nilai-nilai filsafat dan bahasa Helenis, dia
memberitakan tentang Yahshua kepada filsuf-filsuf Atena. Ketika disampaikan
mengenai kebangkitan orang mati dan Yahshua sebagai Mesias, beberapa orang
menolak dan mengganggapnya memberitakan dewa-dewa asing [Kis 17:16-18] dan
ditolak [Kis 17:32]. Namun sejumlah orang Yunani seperti Dionisius, majelis
Areopagus serta wanita Yunani bernama Damaris menjadi percaya [Kis 17:34].
Apakah Dionisius dan Damaris akan berbagi imannya kepada teman maupun
keluarganya dengan menggunakan bahasa Ibrani dan kitab suci berbahasa Ibrani?
Tentu dia akan menggunakan bahasa Yunani dan paling tidak dia akan mengutip
terjemahan kitab suci Septuaginta jika diluar Yerusalem. Orang-orang Yunani dan
Romawi yang menjadi percaya, tentunya memiliki kerinduan untuk menerjemahkan
kitab Perjanjian Baru dikemudian hari dalam bahasa Yunani dengan merujuk pada
naskah berbahasa Ibrani-Aramaik.
Meskipun patut diakui bahwa Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani bukan
merupakan teks yang mula-mula, dan didalam berbagai versi manuskrip teks diakui
terdapat berbagai varian, namun tidak mengubah pokok iman mengenai siapakah
Mesias tersebut dan kematian-Nya di kayu salib serta kebangkitan-Nya dari orang
mati pada hari ketiga. Kesaksian berbagai manuskrip teks dari berbagai tahun dan
abad yang berbeda, memperkokoh nilai historis dan validitas Kitab Perjanjian Baru.
Ketangguhan yang teruji secara historis ini membuktikan pemeliharaan Elohim dan
perkenan Elohim terhadap keberadaan teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani.
Mengabaikan bahkan membuang begitu saja keberadaan teks Perjanjian Baru
berbahasa Yunani, secara tidak langsung telah mengkhianati sejarah terbentuknya
komunitas umat beriman dibelahan dunia lainnya.
Yang kita perlukan bukan melakukan De-Yunanisasi terhadap teks Perjanjian Baru
berbahasa Yunani maupun berbagai metode hermeneutis warisan cara berpikir
Yunani, namun melakukan sintesa dengan cara berpikir Hebraic, pola penafsiran
Hebraic, sehingga menghasilkan struktur pemahaman yang holistik atau
menyeluruh. Cara yang ditempuh oleh DR. David Stern, seorang Yahudi pengikut
Mesias di Abad XX, dengan menerbitkan Jewish New Testament Comentary,
dengan menganalisis teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani dengan
mengkombinasikan sudut pandang Greek dan Hebraic, sungguh menarik dan patut
diapresiasi. Dalam catatan pengantarnyaa, beliau mengatakan :
“My translation of the New Testament from the original Greek into English in a way
that brings out its essential Jewishness”.8
8 Jewish New Testament Publications, 1992, p.ix
10
Bukan Kultus Para Rabbi
Yudaisme pra Mesias maupun paska Mesias memiliki orang-orang bijaksana, rabbirabbi
berpengaruh yang telah banyak memberikan kontribusi terhadap penafsiran,
terhadap aplikasi Torah dalam kehidupan, dalam penyusunan Misnah, Gemara,
Talmud yang berisikan berbagai Halakhah. Beberapa nama rabbi-rabbi terkemuka
seperti Hillel, Shamai, Yokhanan Ben Zakkai, Akiva Ben Yosep [15-135 Ms], Yahda
ha Nasi [135-219 Ms], Sholomo Yitshaqi [1040-1105 Ms], Moshe Ben Maimonindes
[1135-1204 Ms], Moshe Ben Nakhman [1194-1270 Ms], Baal Shem Tov [1700-1760
Ms], Nakhman dari Breslov [1772-1810 Ms]9.
Sepandai dan seberapa berpengaruhnya para rabbi tersebut, namun tidak ada
alasan bagi kita untuk mengkultuskan dirinya dan pengajarannya serta berbagai
tulisannya. Mengapa? Karena merekapun manusia yang terbatas dan terikat dengan
konteks zamannya sehingga dapat terjatuh pada kesalahan penafsiran. Terbukti
bahwa para rabbi Yahudi ketika Mesias hidup banyak yang menolak pengajaran-Nya
dan menjadi dalang Mesias disalibkan. Beberapa tafsiran para rabbi diulas dalam
beberapa buku dan dinilai keluar dari konteks. Beberapa buku yang mengulas
kekeliruan penafsiran para rabbi seperti, Richard Longenecker10, A. Berkeley
Mickelsen11, Milton S. Terry12. Sekalipun kembali ke akar Ibrani mempertimbangkan
berbagai pendapat para rabbi Yahudi baik yang menolak Mesias maupun menerima
Mesias, sebagai rujukan pendapat, namun bukan berarti essensi akar Ibrani
ditentukan oleh sikap yang mengkultuskan para rabbi.
Bukan melakukan secara hurufiah,
tradisi-tradisi Yahudi yang diatur dalam Talmud
Sepulang dari pembuangan Babilonia, orang-orang Yahudi mulai memperbaharui
hidup keagamaan mereka dibawah pimpinan Ezra dan Nehemia. Ada komitmen
baru untuk mengasihi Yahweh dan memelihara Torah-Nya. Namun seiring demikian,
terjadi suatu gerakan yang kuat yang cenderung bersifat legalistik formal
sepeninggal Ezra dan Nehemia. Kecenderungan legalistik [memberi posisi
berlebihan terhadap hukum agama daripada pemberi hukum itu sendiri, sehingga
hukum agama menjadi beban dan bukan pengatur kehidupan] tersebut terekam
dalam berbagai fatwa-fatwa para rabbi yang disusun dalam berbagai literatur Yahudi
yang terentang dari Abad 1 Ms-4 ms.
Berbagai tulisan itu adalah Talmud yang merupakan kompilasi dari Misnah dan
Gemara. Berbagai ajaran, pendapat, diskusi, peraturan agama, ketetapan para
rabbi, disusun dalam berbagai lietarur diatas. Usia Talmud nampaknya setua usia
bangsa Yahudi sejak pulang dari Babilonia. Secara sederhana, Misnah merupakan
kumpulan Torah sebagai bentuk berbagai penjelasan terhadap Torah tertulis yaitu
TaNaKh. Komentar terhadap Misnah dinamakan Gemara. Talmud merupakan
9 Tracey R. Rich, Sages & Scholars, 1996-1999, www.jewfaq.org
10 Biblical Exegesis in the Apostolic Period, Grand Rapids, Michigan : Wm. B. eerdmans Publishing
Co, 1975, p.34
11 Interpreting the Bible, Grand Rapids: Wm. B. eerdmans Publishing Co., 1966, p. 24
12 Biblical Hermeneutik, Grand Rapids, Michigan : Zondervan Publishing House, 1983, p.608
11
kompilasi antara Misnah dan Gemara13. Talmud memiliki dua versi. Versi Babilonia
dan versi Yerusalem. Talmud Babilonia lebih lengkap dan tebal. Misnah terdiri atas
enam pokok bahasan [sedarim] yaitu “Zeraim” [mengenai benih tanaman], “Moed”
[mengenai perayaan], “Nashim” [mengenai wanita], “Nezikin” [mengenai persoalan
yang dilarang], “Kodashim” [mengenai perkara yang kudus], “Toharot” [mengenai
ritual penyucian diri]. Disetiap topik bahasan [sedarim] terdiri dari banyak sub
bahasan [masekhot]. Keseluruhannya ada 63 masekhot dalam Misnah14. Literaturliteratur
Yahudi diatas sebenarnya sangat bermanfaat untuk menjadi petunjuk
mengenai aplikasi atau pelaksanaan suatu ketetapan yang ditulis dalam TaNaKh.
Dalam tradisi Islam, sejajar dengan keberadaan Hadits maupun Sunnah. Dengan
mengacu pada literatur-literatur tersebut maka seseorang dapat menjaga mata
rantai pengajaran dan tradisi aplikasi perintah Elohim.
Namun demikian, dalam Talmud pun ditemui sejumlah pernyataan yang tidak bisa
begitu saja dilakukan oleh bangsa non yahudi yang percaya pada Mesias. Bahkan
dalam Talmud pun terekam berbagai diskusi dan kutukan yang ditujukan terhadap
goyim maupun terhadap pengikut Mesias Yahshua. Tidak dapat disangkal bahwa
Talmud terkadang tidak selaras dengan Firman Elohim yang tertulis dalam TaNaKh.
Beberapa contoh kami kutipkan. Talmud melarang pengucapan nama Yahweh
sebagaimana tertulis dalam Misnah Sotah 7:6; Misnah Tamid 7:2, “…dalam tempat
kudus seseorang mengucapkan Sang Nama sebagaimana tertulis namun diluar
tempat kudus, diucapkan dengan bentuk euphemisme…”15 . Larangan ini tidak
sejalan dengan perintah TaNaKh agar nama-Nya di panggil [1 Taw 16:26, Kel 3:15,
Mzm 99:3].
Demikian pula Talmud berisikan kutukan-kutukan terhadap pengikut Yahshua.
Beberapa buku telah mengulas kenyataan tersebut al. Prof. DR. Muhammad Asy
Syarqawi, TALMUD : Kitab Hitam Yahudi Yang Menggemparkan,16 I.B. Branaites,
Fadh at Talmud17. Kebencian terhadap pengikut Yahshua ha Mashiah pun
terrefleksi dalam Shemone Esrei [delapan belas doa berkat]. Pada doa kesembilan
belas [yang ditambahkan kemudian], ada kata-kata kutukan yang ditujukan pada
pengikut Mesias yang dijuluki “ha Minim” [Bidat]18 dan juga “Meshummed”
[perusak]19. Beberapa pernyataan dalam Talmud yang memojokkan pengikut Mesias
merefleksikan penolakan para rabbi Yahudi di Abad I Ms terhadap Kemesiasan
Yahshua. Perilaku rabbi-rabbi Yahudi tersebut telah terekam sejak dini dalam Kitab
Matius 27:11-15 mengenai fitnah-fitnah yang dihembus-hembuskan para rabbi
mengenai kematian dan kebangkitan Yahshua dari kematian. Fakta-fakta diatas
menuntut kita untuk tidak mengkultuskan peranan Talmud sebagai sumber referensi
penafsiran dan pengambilan keputusan keagamaan pengikut Mesias. Namun
demikian, kita tidak dapat mengganggap remeh begitu saja nilai Talmud, karena
13 Baker’s Dictionary of Theology, Grand rapids Michigan 49506, Baker Books House, 1985, p. 511-
512
14 Tracey R. Rich, Torah, 1995-1999, www.jewfaq.org
15 DR. James S. Trimm, Nazarenes & The Name of YHWH, 1997, www.nazarene.net
16 Jakarta: SAHARA Publishers, 2004, hal 239-243
17 Dar an-Nafais, Beirut
18 Nazarene : Definition & History, Catholic Encylopedia Electronic Version. New Advent, Inc. 1998,
www.newadvent.org/eathen
19 DR. Michael Schiffman, Return of the Remnant: the Rebirth of Messianic Judaism, Baltimore,
Maryland : Lederer Messianic Publishers, 1990, p.13
12
didalamnya pun terekam banyak ulasan yang sangat kaya mengenai bagian-bagian
Kitab Suci.
Bukan Yang Mampu Mengucapkan
Nama Yahweh dan Yahshua/Yeshua
Beberapa kelompok mendefinisikan arti ke akar Ibrani adalah jika seseorang dapat
menyebutkan dengan benar nama-nama tokoh-tokoh dalam Kitab Suci yang
berbahasa Ibrani. Misalnya Petrus menjadi Kefa. Yusuf menjadi Yosep. Musa
menjadi Moshe. Bahkan dapat menyebutkan nama Yahweh dan Putra-Nya,
Yahshua atau Yeshua, dimaknai sebagai kembali keakar Ibrani. Sekalipun agenda
diatas menjadi bagian dari kembali ke akar Ibrani, namun pemahaman mengenai
kembali ke akar Ibrani tidak sesempit pemahaman diatas.
Bukan Menjadi Yahudi
Ada kecenderungan pada beberapa kelompok Kekristenan yang berkomitmen untuk
kembali ke akar Ibrani, memaknainya dalam bentuk aksesoris semata-mata seperti
menggunakan “Kippa”, “Tallit”, “Tefilin”, berbahasa Yahudi, mengikuti budaya
Yahudi, sehingga terkesan kehilangan identitasnya sebagai sebuah bangsa yang
berbeda dengan Yahudi. Meskipun penggunaan Kippa, Tallit, Tefilin, bahasa Ibrani
menjadi bagian dari kembali ke akar Ibrani, namun kembali ke akar Ibrani bukan
hanya sekadar mengadopsi bentuk-bentuk eksternal Yudaisme melainkan lebih jauh
dari itu.
SECARA POSITIP
Mengakui bahwa bangsa non Yahudi
merupakan Tunas Liar yang di tempelkan pada Zaitun asli
Sebelum kita melakukan eksegese terhadap Roma 11:16-14], kita cermati terlebih
dahulu kata “cangkok” dalam terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia. Kata
“cangkok” dalam Roma 11:16-24, ada enam kali. Namun istilah “cangkok” adalah
tidak tepat sama sekali. Kata yang diterjemahkan “cangkok” dalam bahasa
Yunaninya “Egkentrizo” [ ejgkentrivzw ]. Menurut Eanchend Strong Lexicon ,
kata “Egkentrizo” bermakna, “to cut into, for the sake of inserting scion” [memotong
demi menghasilkan keturunan] dan “to innoculate”, “ingraft”, “graft in” [menyuntikan,
menempelkan]20.
Dalam terminologi pertanian, ada istilah “Cangkok”, yaitu pemisahan cabang dari
batangnya, setelah dibuatnya berakar. Tidak ada organisme baru ditambahkan
maupun organisme baru dihasilkan. Lalu, “Okulasi”, pertumbuhan batang sangat
dipengaruhi si penempel dan hasilnya terserah dari si penempel. Dari hasil okulasi
atau tempel, dapat dihasilkan organisme baru yang lebih baik dari aslinya.
Sementara, “Stek” adalah potongan batang dari tumbuhan lain yang dapat tumbuh
sendiri. Jika mengikuti definisi diatas, maka kata “egkentrizo” lebih tepat
diterjemahkan “ditempelkan”. The New International Version menggunakan kata
20 Oak Harbor, WA : Logos Research System, Inc, 1995
13
“grafted”21. Sementara The New Century Version menggunakan kata “joined”22.
Rasul Paul menjelaskan hubungan akar dan cabang, sbb :
• Roti sulung adalah kudus, maka seluruh adonan adalah kudus
• Akar kudus maka cabang adalah kudus
• Beberapa cabang telah dipatahkan. Tunas liar ditempelkan dan mendapat
bagian dalam akar pohon zaitun
• Jangan kamu bermegah, karena akar yang menopang kamu [shelo atta
noshe et ha shoresh ella ha shoresh noshe otka, Heb.]
• Bangsa non Yahudi ditempelkan semata-mata karena ketidak percayaan
Israel. Sementara Bangsa Non Yahudi dapat tegak karena iman
• Jika cabang asli tidak membuang cabangnya, maka Elohim juga tidak akan
mengambil Bangsa Non Yahudi
• Perhatikanlah kemurahan Elohim dan kekerasannya
• Elohim akan menempelkan kembali jika Israel bertobat
• Penempelan kembali Bangsa Israel adalah dikarenakan mereka cabang yang
asli
Dari uraian diatas, kita mendapatkan pemahaman bahwa bangsa-bangsa non
Yahudi tidak layak memegahkan diri dan mengganggap rendah bangsa Yahudi serta
meninggalkan akar iman yang bersumber dari keyahudian. Yahshua ha Mashiah
secara manusiawi merupakan keturunan suku Yahda [Ibr 7:14]. Pelayanan Mesias
pertama-tama ditujukan untuk domba-domba Israel yang hilang [Mat 15:24], Mesias
membaca Torah dan mengajar di Sinagog pada hari Sabat [Luk 4:16], Mesias
merayakan tujuh hari raya Israel [Yoh 7:1-2]. Yahshua dan para rasul tidak
membawa agama baru yang disebut Kristen. Dia Mesias yang datang sebagaimana
dituliskan dalam TaNaKh. Dia datang dan mengajar dengan bingkai Yudaisme.
Tidak heran jika para murid pun sepeninggal Yahshua tetap beribadah Sabat di
Sinagog [Kis 13:13-14, 42,44]. Berdoa tiga kali sehari [shakharit, minha, maariv,Heb]
diwaktu-waktu tertentu [Kis 3:1, Kis 10:3,9], tetap memelihara Torah dalam terang
kematian dan kebangkitan Mesias [Kis 21:20]. Pengikut Mesias dari kalangan
Yahudi, dijuluki “Sekte Netsarim”, “Pengikut Jalan itu”. Sementara pengikut Mesias
di luar Yahudi dijuluki “Christianoi” [Kis 11:24].
Hubungan antara Israel dengan nenek moyang Israel yaitu Abraham, Ishak dan
Yakub, digambarkan dengan istilah “roti kudus” dan “adonan”, “akar kudus” dan
“cabang” atau “ranting” [Rm 11:16]. Sementara Israel sebagai “ranting”, dipatahkan
karena penolakkan mereka terhadap Mesias yang dijanjikan Yahweh melalui mulut
para nabi. Bangsa non Yahudi “ditempelkan” kepada akar zaitun untuk menerima
kehidupan dan kekayaan rohani dan menjadi bagian dari umat beriman [Rm 11:17].
Konsekwensi logisnya bangsa non Yahudi tidak selayaknya bermegah terhadap
bangsa Yahudi terutama pengikut Mesias yang berasal dari Yahudi [Rm 11:18].
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa abad ke-2 Ms menjadi saksi momentum
perubahan terhadap Gereja yang berakar pada Yudaisme. Gereja mulai tercabut
dari akarnya setelah bangsa non Yahudi diluar Yerusalem menerima Mesias.
Mulailah muncul sikap-sikap kebencian dikalangan Gereja di Roma terhadap
kalangan Yahudi. Maka berbagai bentuk-bentuk ibadah berbingkai Yudaisme
mengalami perubahan. Mulailah muncul perayaan “Christmas” dan “Easter”, sebagai
21 Grand Rapids, MI : Zondervan Publishing House, 1984
22 Dallas, Texas : Word Publishing, 1987, 1988, 1991
14
pengganti “Tujuh Hari Raya Israel”. “Ibadah Hari Minggu” sebagai pengganti
“Sabat”. Demikian pula dengan “Ekaristi” sebagai pengganti “Seder Pesakh”, dll.
Kesemua bentuk ini kelak disebut dengan “Anti Semitisme” dan “Replacement
Theology” [Teologi Pengganti]. Kesemua wujud perubahan ini mencerminkan sikap
goyim yang BERMEGAH/MENYOMBONGKAN diri dan berusaha menggantikan
posisi Israel secara lahiriah.
Mengapa Goyim tidak sepantasnya bermegah terhadap Israel jasmani? Pertama,
akar itulah yang menopang ranting dan bukan sebaliknya [Rm 11:18]. Dalam
terjemahan The Orthodox Jewish Brit Chadsha, dituliskan:
But if some of the ana'fim have been broken off, and you, a wild olive, have been
grafted among them and have become sharer in the richness of the olive tree's root,
do not boast (4:2) over the ana'fim. If you do boast, it is not the case that you sustain
the shoresh, but the shoresh sustains you23.
Kata “sustain” bukan sekedar menopang namun secara terus menerus menyediakan
atau memberikan kekuatan dan kehidupan. Sikap yang Anti Semit maupun
menganut pemahaman Replacement Teology merupakan wujud bermegah atau
menyombongkan diri terhadap akar. Bahkan secara tidak langsung merendahkan
kedudukan Mesias yang Yahudi adanya.
Hans Ucko menjelaskan dalam tulisannya:
“Gereja Kristen, teologi Kristen dan Kekristenan secara keseluruhan, tidak
terpisahkan dengan umat Yahudi atau Yudaisme. Orang Yahudi dan Kristen memiliki
Kitab Suci yang sama. Iman Kristen lahir dalam lingkungan Yahudi. Gereja masih
saja ragu apakah kenyataan tersebut dinilai sebagai berkat atau kutuk. Sejumlah
kecil orang Kristen melihat hubungan diatas sebagai suatu masalah dan berupaya
memecahkannya dengan membatasi kitab Perjanjian Lama dan agama umat Israel
di satu sisi dan Yudaisme di sisi lainnya. Dengan cara ini, seseorang sebenarnya
‘membebaskan’ orang Israel dari keyahudiannya. Pendekatan tersebut
mencerminkan sebentuk rasa sulit [bagi orang Kristen atas hubungannya yang
terlalu dekat dengan umat Yahudi dan dengan Yudaisme yang hidup saat ini.
Seseorang memang tidak mudah mengakui akibat dari memilih ‘Tuhan Yahudi’ itu”24.
Demikian pula Nelly Van Doorn-Harder, MA., menjelaskan,
“…proses melupakan warisan keyahudian ini berawal dari pengajaran mengenai
amanat Kristen diluar tanah asalnya sendiri, tanah Palestina, yakni ketika pesan
Kristen ini dikontekstualisasikan dengan cara menyerap budaya-budaya dan ide-ide
lokal seperti ide-ide filsafat Yunani…Dalam kenyataan, yang terjadi adalah para
reformator bahkan membawa gereja keluar jauh dari warisan aslinya karena mereka
dipengaruhi oleh suatu budaya yang berorientasikan ilmu pengetahuan sebagai hasil
dari Renaisance. Sehingga keaslian sikap Kristen Yahudi yang senantiasa berdialog
secara konstan dengan [Elohim] yang penuh simbol dan misteri, sama sekali hilang
dari kehidupan liturgi Protestan dan diganti oleh penekanan ala Protestan yakni
doktrin…anti Yahudi telah memberi andil terhadap paham [ide] bahwa Kekristenan
adalah sebuah agama yang betul-betul asli dan tidak menggunakan unsur Yudaisme
apapun. Melupakan akar-akar keyahudian, memberikan konsekwensi-konsekwensi
serius terhadap kehidupan liturgi Kristen. Bila orang-orang Kristen tidak lagi
memahami arti sepenuhnya latar belakang keyahudian dalam kehidupan liturgi
23 www.beittikvahsynagogues.com
24 Akar Bersama: Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, Jakarta: BPK, 1999, hal 5
15
mereka, kontroversi-kontroversi seperti yang ada dalam interpretasi mengenai
perjamuan kudus, mulai nampak diantara orang-orang Kristen. Akibat dari
kontroversi-kontroversi ini adalah munculnya perpecahan-perpecahan dan aliranaliran
dalam gereja”25.
Kedua, Israel dipatahkan karena ketidakpercayaan mereka terhadap Mesias yang
telah diutus Elohim Yahweh, sementara Goyim karena percaya pada Elohim yang
telah mengutus Mesias [Rm 11:20]. Ketiga, jika cabang asli tidak dipatahkan maka
Goyim belum tentu ditempelkan dan mendapat kekayaan rohani dari Israel [Rm
11:21]. Keempat, jika Goyim mengabaikan kemurahan Yahweh, akan dipatahkan
juga. Jadi meskipun Goyim ditempelkan dalam Akar Zaitun dan mendapat kekayaan
rohani, bukan bermakna kekal. Jika mereka memberontak, maka akan dipatahkan
pula [Rm 11:22]. Kelima, Bangsa Israel akan ditempelkan kembali dengan akar
zaitun [Rm 11:24], setelah bangsa-bangsa Goyim menerima Mesias, maka semua
Israel akan diselamatkan [Rm 11:25-27].
Mengakui sumber keselamatan berasal dari Israel
Mesias Yahshua secara manusia adalah keturunan Yahda [Ibr 7:14], dilahirkan di
Betlehem [Mik 5:1], dinubuatkan kedatangan-Nya oleh nabi-nabi Israel [Ul 18:37-38,
Yes 7:14]. Suka atau tidak suka, keselamatan yaitu kehidupan kekal karena
dipulihkannya hubungan manusia dengan Elohim akibat kutuk dosa yang
mendatangkan maut, berasal dari Yahudi. Mengapa? Karena dari suku
Yahudi/Yehuda/Yahda, telah lahir Mesias. Dia yang diurapi untuk melakukan karya
penyelamatan terhadap dunia dan manusia. Berbagai upaya untuk membuat
Yahshua terlihat seperti orang Eropa, seperti orang Yunani, seperti orang Negro,
seperti orang Asia, dll. Sikap demikian mencerminkan suatu sikap yang secara
sadar atau tidak sadar enggan mengakui Keyahudian Mesias. Ada banyak faktor
dan motif dibelakang sikap-sikap demikian. Bisa karena motif politis, bisa karena
motif kultural, motif religius dll. Fenomena ini dikomentari oleh Hans Ucko sbb:
“Adalah menarik mengamati bagaimana orang-orang Kristen dibanyak tempat
berupaya menjadikan [Yahshua] sebagai salah seorang dari kelompok mereka,
seolah [Yahshua] hidup dalam kebudayaan dan keprihatinan yang sama dengan
mereka. [Yahshua] menjadi [Yahshua] orang Afrika, [Yahshua] orang Palestina,
[Yahshua] orang Amerika Latin. Hal ini memang perlu, sebab upaya tadi
memperkaya kekristenan. Namun, akibatnya terkadang orang lupa siapa [Yahshua]
yang sesungguhnya. Baru akhir-akhir inilah ada upaya mengembalikan [Yahshua]
kedalam keyahudian-Nya”26.
Senada dengan penjelasan diatas, Anton Wessel memberikan keterangan:
“[Yahshua] bukan orang Kristen, tetapi orang Yahudi! Ucapan Jullius Wellhausen ini
menjadi terkenal dan sering dikutip orang. Pernyataan ini pada dasarnya sangat
sederhana dan jelas, sekalipun tidak dapat dikatakan bahwaq orang Kristen selalu
menyadari betapa luas arti pernyataan ini. Ungkapan ini menyatakan-betapa
mungkin secara mengejutkan-betapa sering orang Kristen kira, bahwa mereka sudah
memahami dan mengetahui seluruh pribadi-Nya. Mereka lupa bahwa ‘keselamatan
25 Akar-akar Keyahudian dalam Liturgi Kristen, dalam : Jurnal Teologi GEMA Duta Wacana, no 53,
Yogyakarta: 1998, hal 72-73
26 Op.Cit., Akar Bersama, hal 6-7
16
datang dari bangsa Yahudi’, sebagaimana terungkap dalam percakapan [Yahshua]
di sumur dengan perempuan Samaria itu [Yoh 4:22]”27.
Apapun alasannya, Yahshua secara manusiawi adalah Yahudi. Juruslamat itu
berasal dari suku Yahda [Ibr 7:14]
Mengakui sumber pengajaran berasal dari Israel
Torah di turunkan Yahweh kepada Bangsa Israel sebagai petunjuk yang mengatur
seluruh sistem kehidupan. Mesias Yahshua mengajar dan melaksanakan Torah
dengan benar [Mat 5:17-18]. Mengabaikan Torah dengan beralasan bahwa Torah
telah kehilangan relevansinya setelah Mesias datang, merupakan perlawanan
terhadap hakikat diturunkanya Torah. Pengikut Mesias di Abad I Ms tidak
melepaskan Torah namun memeliharanya dalam terang kematian dan kebangkitan
Mesias [Kis 21:20]. Sikap mengabaikan pengajaran dalam Torah merupakan
perkembangan setelah Gereja/Eklesia/Kahal Yahweh berkembang di luar Yerusalem
dan bergerak jauh dari episentrum kerohanian, sehingga mengalami disorientasi
iman dan ibadah.
BAGAIMANA MENGAKTUALISASIKAN PEMAHAMAN
KEMBALI KE AKAR IBRANI?
Meskipun kembali ke akar iman bukan bermakna “menjadi Yahudi” dan sejenisnya,
namun pemahaman tentang “Keyahudian” atau “Keisraelan” dan berbagai ekspresi
ibadah, pengajaran serta tradisi-tradisi mereka, perlu dipelajari dalam terang
kehadiran Yahshua Ha Mashiah. Hasil pemahaman mengenai “kembali ke akar
Ibrani”, perlu diaktualisasikan dalam berbagai bidang penghayatan Kristiani. Berikut
beberapa bentuk aktualisasi pemahaman kembali ke akar Ibrani dalam kehidupan
iman Kristiani:
Dalam Ibadah [Avodah]
Merekonstruksi kembali tata ibadah pengikut Mesias yang berakar pada keyahudian
dan menerapkan secara kontekstual yaitu, sabat, tefilah shakharit-minhah-maariv,
tujuh hari raya, dll. Sejarah mencatat bahwa Yahshua dan para rasul tidak pernah
memerintahkan mengganti sabat dengan ibadah minggu. Kaisar Konstantin yang
pertama kali menggagas untuk memindahkan ibadah sabat menjadi minggu, ketika
Kekristenan berhasil dijadikan agama negara.
“Kahal Yahweh” [Gereja] perlu untuk mengembalikan sabat Yahweh karena sabat
merupakan penetapan Yahweh sendiri. Berbagai gereja di berbagai belahan dunia,
telah menyadari pentingnya sabat dan mulai memelihara sabat dan
menguduskannya dalam bentuk peribadahan. Mengenai sabat akan diperdalam
dalam bab berikutnya dari tulisan ini. Doa harian tiga kali sehari, yaitu Shakharit,
Minha dan Maariv yang telah dilaksanakan sejak masa Daud [Mzm 55:17], Daniel
[Dan 6:11], Ezra [Ezr 9:5] sebagai bentuk doa harian yang merujuk pada pola
mempersembahkan korban di Bait Suci yang dilaksanakan tiga kali sehari [Kel
29:38-42, Bil 28:1-8, 2 Raj 16:15, 1 Taw 16:40]. Meskipun ada beberapa penulis
27 Memandang Yesus : Gambar Yesus Dalam Berbagai Budaya, Jakarta : BPK, 1990, hal 19
17
yang tidak menyetujui bahwa Yahshua melakukan praktek doa harian tiga kali
sehari, sebagaimana diterangkan oleh Rashid Rahman, demikian:
“Sejauh ini sulit membuktikan secara eksplisit bahwa [Yahshua] melakukan tiga kali
berdoa sehari sebagaimana pola Farisi…Rupanya pola ibadah harian yang
[Yahshua] lakukan mengikuti langsung ibadah Yudaisme pola Eseni: Shema dan
Terapeutik, yakni pola tradisonal dari kaum leluhur: Patrious [Mrk 12:26] dan
monastik Yahudi”28.
Namun beberapa ayat memberikan indikasi bahwa Yahshua melakukan pola
tersebut [Mrk 1:35, Mrk 6:46, Luk 6:12]. Demikian pula para rasul meneruskan tradisi
Tefilah Shakharit, Minha dan Maariv, sebagaimana dilaporkan bahwa Petrus dan
Yohanes masuk ke Bait Suci untuk beribadah pada jam ke sembilan [jam 15.00 WIB,
Kis 3:1], lalu Petrus berdoa di Yope pada jam keenam [jam 12.00 WIB, Kis
10:9].Gereja perlu memulihkan kembali pola ibadah tiga kali sehari ini untuk
menghubungkan dirinya dengan akar ibadah Yudaisme yang menjadi latar belakang
ibadah Mesias dan murid-murid-Nya.
Demikian pula dengan keberadaan hari-hari raya. Dalam Imamat 23:1-44 Yahweh
menegaskan ada tujuh hari raya Israel. Ketujuh hari raya tersebut memiliki makna
berlapis. Disatu sisi itu merupakan pesta panen. Disisi lain berhubungan dengan
tindakan Yahweh yang telah menyelamatkan Israel dari perbudakan Mesir sampai
peringatan penyertaan Yahweh dipadang gurun, melalui simbol-simbol ibadah dalam
ketujuh hari raya tersebut. Namun Gereja di Abad ke-2 Ms dan seterusnya
kehilangan akar perayaan ini dan menggantikannya dengan ibadah yang tidak
firmaniah seperti “Christmass” yang dirayakan pada setiap 25 Desember dan
“Easter” sebagai pengganti Paskah. Dalam berbagai kajian telah dibuktikan bahwa
Christmass tanggal 25 Desember merupakan bentuk peribadahan yang berakar dari
perayaan paganistik, yaitu penyembahan pada dewa “Sol Invictus”. Sementara
Easter merupakan perayaan paganistik di musim semi. Uraian mengenai hari raya
dan berbagai hari raya pengganti, akan diuraikan secara tersendiri dalam bagian
tulisan ini. Gereja perlu untuk memulihkan tujuh hari raya yang ditetapkan Yahweh
sendiri. Secara prophetik, tujuh hari raya tersebut bukan hanya menunjuk pada
suatu peristiwa historis antara Israel dan Yahweh namun menunjuk pada Mesias
yang akan datang, yaitu menunjuk pada kehidupan dan karya Sang Mesias dari
sejak kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan ke Sorga hingga kedatanganNya
yang kedua.
Dalam Pokok-pokok Iman [Emunah]
Merekonstruksi kembali pokok-pokok ajaran pengikut Mesias yang berakar pada
keyahudian dan menerapkan secara kontekstual [Keesaan Tuhan, Nama Tuhan,
Hakikat Mesias, Baptisan, Sorga, Neraka, Setan, Malaikat,dll.]. Gereja diawal
pertumbuhannya tidak pernah merumuskan istilah “Tritunggal”. Sebagaimana
Yudaisme yang mendasarkan pada keesaan Elohim sebagaimana diperintahkan
dalam Ulangan 6:4-5, demikianlah Mesias melafalkan “Shema” ketika ditanya oleh
para ahli Taurat mengenai hukum yang terutama [Mrk 12:29]. Tidak ditolak bahwa
didalam tulisan Perjanjian Baru tersebar formula sebutan “Bapa”, “Putra” dan “Roh
Kudus” sebagaimana menjadi warna dari keseluruhan tulisan Rasul Paul, namun
28 Ibadah Harian Zaman Patristik, Tanggerang : Bintang Fajar, 2000, hal 30
18
para rasul, termasuk Rasul Paul tidak pernah menyebutkan istilah Tritunggal.
Sebaliknya, para rasul selalu menyebutkan Elohim sebagai Esa [Yoh 17:3, Yoh 5:44,
1 Kor 8:5-6, 1 Tim 2:5] meskipun serentak menyebut baik Bapa, Putra dan Roh
Kudus. Secara historis, istilah Tritunggal merupakan rumusan Tertulianus [166-220
Ms] yang dimaknai “Una Substantia Tres Persona”[lat] atau “Mono Ousia Tres
Hypostasis”[Yun] artinya “Satu Keberadaan yang memiliki tiga pribadi”. Diskusi
mengenai irelevansi terminologi Tritunggal akan pula dibahas secara terpisah dalam
tulisan ini. Demikianpula dengan eksistensi nama Yahweh yang tertulis sebanyak
kurang lebih 6000 kali dalam TaNaKh dan kurang lebih 210 dalam Besorah [Injil],
perlu mendapatkan tempat dan pengkajian yang serius serta diaplikasikan dalam
penerjemahan Kitab Suci, tata ibadah, nyanyian, khotbah dan berbagai kajian
kerohanian.
Dalam Etika [Halakhah]
Merekonstruksi kembali pokok-pokok etika pengikut Mesias yang berakar pada
keyahudian dan menerapkan secara kontekstual [etika sosial, etika politik, etika
rumah tangga, etika ekonomi, etika pendidikan, etika kesehatan, dll]. Halakhah
Yudaisme yang didasarkan pada pernyataan para rabbi yang hidup diberbagai abad,
menjadi salah satu sumber informasi dalam mengambil berbagai keputusan sosial,
ekonomi, pemerintahan yang didasarkan pada Torah Yahweh. Di satu sisi, suratsurat
rasul Paul, bisa juga dianggap menjadi rujukan halakhah mesianik di abad 1
Ms [walaupun bukan ini satu-satunya definisi yang tepat], maka umat pengikut
Mesias perlu menggembangkan berbagai kajian dibidang sosial, ekonomi, politik,
kebudayaan yang merupakan berbagai kumpulan tafsir dan pemahaman yang
didasarkan pada TaNaKh maupun Besorah.
Dalam Teologi [Elohut]
Mempelajari pola penafsiran Hebraic Rabbinik
Ada banyak metode dalam melakukan proses penafsiran Kitab Suci [Hermeneutik]
yang diajarkan dalam berbagai sekolah teologia. Pdt. Hasan Sutanto, MTh.
Memberikan bentangan informatif mengenai beragam metode tafsir yang terbentang
dari sejak zaman Ezra, Rabbinik sampai abad modern29. Secara umum, berbagai
metode tafsir yang saat ini masih diberlakukan di berbagai sekolah teologia adalah:30
• Textual Criticsm [Menyelidiki kata-kata asli atau dalam teks Kitab Suci]
• Historical Criticsm [Menyelidiki latar belakang dan konteks dimana Kitab
Suci dituliskan]
• Grammatical Criticsm [Menyelidiki struktur bahasa yang meliputi tata
bahasa, dalam teks Kitab Suci]
• Literary Criticsm [Menyelidiki susunan, struktur, gaya bercerita suatu teks
dalam Kitab Suci]
• Form Criticsm [Menyelidiki gaya sastra dan fungsi suatu teks dalam Kitab
Suci]
29 Hermeneutik : Prinsip & Metode Penafsiran Alkitab, Malang : SAAT, 1991, hal 29-110
30 John H. Hayes & Carl R. Holladay, Biblical Exegesis: A Beginner’s Handbook, Atlanta: John Knox
Press, 1982
19
• Tradition Criticsm [Menyelidiki tahapan penyusunan suatu teks dalam Kitab
Suci]
• Redaction Criticsm [Menyelidiki sudut pandang akhir dan kanonik serta
teologi dalam suatu teks Kitab Suci]
Tidak ada satupun metode-metode tersebut yang sempurna. Maka dengan
melakukan sintesa diantara berbagai metode penafsiran, akan dihasilkan sudut
pandangan atau penafsiran yang mendekati kesempurnaan. Metode-metode diatas
tidak perlu dibuang dan ditiadakan dikarenakan semata-mata dipengaruhi pola pikir
Helenis yang rasionalistik,namun perlu disintesakan dengan pola penafsiran hebraic
yang telah dikerjakan sejak zaman rabbinik pra Mesias maupun dizaman Mesias.
Pola Yahudi kuno memiliki sistem penafsiran Kitab Suci yang disebut “PaRDeSh”.
Secara literal bermakna “taman” namun sebenarnya istilah tersebut merupakan
akronim dari :31
• Peshat [Menyelidiki teks yang tersurat]
• Remez [Menyelidiki makna yang tersembunyi dalam teks]
• Drash [Menyelidiki makna suatu perikop dalam kaitannya dengan khotbah,
pengajaran, dll]
• Shod [Menyelidiki aspek gematria {angka-angka} yang tersembunyi dan
mengandung pesan yang harus dipecahkan]
Yang tidak kalah menariknya adalah metode Hillel dalam menafsirkan yang terkenal
dengan sebutan “Tujuh Aturan Hillel” yang terdiri dari :32
• Qal wa Khomer [Berat dan Ringan]
• Gezerah shawah [Persamaan kalimat]
• Binyan ab mikatuv ehad [Membangun suatu pernyataan dari satu teks
pendukung]
• Binyan ab mishene Kethuvim [Membangun suatu pernyataan dari satu atau
lebih teks pendukung]
• Kelal u Ferat [Umum dan Khusus]
• Kayotse bo mimemom ahar [Analogi yang dibuat berdasarkan teks yang
berbeda]
• Davar milmad ha anino [Penjelasan berdasarkan konteks teks]
Berbagai metode diatas dapat disintesakan sehingga menghasilkan pola penafsiran
yang berakar pada keyahudian tanpa kehilangan warisan penafsiran yang telah
dipelihara oleh berbagai sekolah teologi.
Mempelajari tradisi Rabbinik Yudaik,
dalam Kitab Perjanjian Baru
Dalam Kitab Perjanjian Baru, kita akan menemui sejumlah pernyataan atau kalimat
yang asing ditelinga kita namun tidak asing jika didengar oleh orang Yahudi pada
Abad 1 Ms, karena berbagai idiom khas tersebut menjadi bagian dari diskusi
rabbinik. Sebagaimana kita dapat melihat dalam Matius 5:17-48 dimana Yahshua
selalu membuat tanggapan terhadap pernyataan yang sebelumnya telah berlaku
31 DR. James Trimm, PaRDeS: The Four Levels of Understanding the Scriptures, www.nazarene.net
32 The Seven Rules of Hillel, www.nazarene.net
20
dengan berkata, “engkau telah mendengar” [shematem] namun aku berkata
kepadamu [Ani omer attem,Heb.]”.
Berbagai kalimat atau ungkapan khas Yahudi tersebut dinamakan idiom. Beberapa
idiom Hebraic dalam Kitab Perjanjian Baru al, “mata baik dan mata buruk”[Mat 6:22-
23], “mengikat dan melepas” [Mat 16:19], “letakkan kata-kata ini ditelingamu” [Luk
9:44], “membatalkan Torah dan menggenapi Torah” [Mat 5:17]. David Bivin & Roy
Blizzard telah mengulas secara ilmiah mengenai temuan idiom-idiom hebraic yang
tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru. Kegagalan memahami makna idiom hebraic,
mengakibatkan terjemahan yang keliru dan penafsiran teologi yang keliru33.
Memberi bobot secara proporsional
terhadap pengkajian kebahasaan,
baik bahasa Yunani maupun bahasa Ibrani
Dalam berbagai sekolah teologi, terkadang tekanan diberikan pada penguasaan
bahasa Yunani daripada Ibrani. Hal ini disebabkan oleh adanya anggapan yang
telah tersebar luas bahwa Kitab Perjanjian Baru mula-mula ditulis dalam bahasa
Yunani. Maka diperlukan penguasaan terhadap bahasa Yunani untuk melakukan
penafsiran terhadap teks. Tidak jarang terjadi, bahwa mata pelajaran bahasa
Yunani dan Ibrani terkadang hanya menjadi mata pelajaran sekunder dan kurang
mendapat perhatian seutuhnya, sehingga menghasilkan penguasaan materi yang
sepenggal-sepenggal dan bersifat pasif. Kedua mata pelajaran bahasa Ibrani dan
Yunani, mutlak dikuasai oleh mereka yang menggeluti dunia teologia. Tanpa
penguasaan bahasa, kita akan gagal memahami maksud teks, idiom kalimat,
sehingga mengakibatkan penafsiran yang menyimpang dari masud teks dan
konteksnya.
Memperluas pengkajian sejarah Yudaik,
pada masa Intertestamental
Yang dimaksud dengan zaman atau masa Intertestamental adalah:
“zaman sepanjang empat ratus tahun antara maleakhi sampai kelahiran [Mesias].
Sumber-sumber informasi utama untuk zaman ini adalah kita-kitab Makabe yang
menceritakan tentang pemberontakan yang dipimpin oleh wangsa Makabeus serta
kekacauan yang terjadi di tanah Palestina waktu itu dan tulisan-tulisan Yosefus,
sejarawan Yahudi abad pertama”34.
Mengapa penelitian dan pendalaman terhadap zaman Intertestamental ini
diperlukan? Robert dan Remy Koch menjelaskan sbb:
“It is important for both Jews and Christians to understand the silent period between
the last TaNaKh [Old Testament] Prophets and the writings of the Brit Chadasha
[New Testament] because the five hundred year period formed the foundation of both
modern Rabbinic Judaism and Messianic Judaism [the Nazarenes] of which
Christianity is a branch. One truly cannotr comprehend the Brit Chadasha [New
Testament] without knowing something about the time, religious customs and
33 Understanding the Difficult Words of Jesus, New Insight From a Hebraic Perspective, Destiny
Image Publishers & Center for Judais-Christian Studies, 1994, p.81-128
34 J.I. Packer dkk., Dunia Perjanjian Baru, Gandum Mas, 1993, hal 3
21
conroversies, social custom and attitudes of the Jewish population in general”35
[Adalah penting bagi kedua pihak, yakni kaum Yahudi dan Kristiani untuk memahami
periode ‘kesunyian’ yang terentang dari akhir TaNaKh, nabi-nabi hingga penulisan
Kitab Perjanjian Baru, sebab periode waktu lima ratus tahun ini, merupakan dsar
terbentuknya baik Yudaisme Rabbinik modern maupun Mesianik Yudaisme, yang
mana merupakan akar dari Kekristenan. Belumlah lengkap pemahaman seseorang
mengenai Perjanjian Baru tanpa mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan waktu,
kebiasaan agama dan perdebatan-perdebatan, kebiasaan masyarakat dan berbagai
sikap komunitas Yahudi secara umum pada waktu itu].
Selanjutnya Robert dan Remy Koch melanjutkan:
“By studyng this period, Jews and Christians will be able to discern the doctrine of
the Messiah, Shaul [Paul] and the other writers of the Brit Chadasha [New
Testament] based only on accurate understanding of history and Biblical Judaism.
The Brit Chadasha will be put back into the original time and place. Context must
determine content”36 [dengan mempelajari periode waktu ini, maka baik orang
Yahudi maupun Kristiani akan mampu membedakan pengajaran Mesias, pengajaran
Rasul Shaul {Paul} dan penulis Kitab Perjanjian Baru lainnya, yang didasarkan pada
pemahaman yang tepat terhadap sejarah dan Yudaisme Biblikal. Kitab Perjanjian
Baru akan diletakkan selayaknya pada ruang dan waktu yang mula-mula. Konteks
akan menentukan isinya].
Meninjau ulang asumsi pembatalan Torah
di masa Perjanjian Baru
Meskipun Kekristenan pada umumnya tidak secara langsung menyebutkan telah
membataalkan Torah, namun dari berbagai sikap yang ditunjukan, memperlihatkan
sikap yang mengabaikan Torah dan mengganggapnya hanya sebagai era Musa
yang telah kehilangan relevansi seutuhnya dizaman Yahshua. Kita dapat melihat
berbagai kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang kristen seperti memakan
hewan-hewan yang dikategorikan “tame” [kotor] sebagaimana diatur dalam Imamat
11. Demikian pula masih mengkonsumsi darah, hewan yang dimasak dari hasil
mencekik dan menganiaya, sementara para rasul pun melarangnya [Kis 15:20].
Perilaku demikian disebabkan asumsi teologi yang sudah tertanam oleh berbagai
pengajaran yang didasarkan pada berbagai terjemahan Kitab Suci yang buruk dan
mengesankan bahwa Torah telah dibatalkan. Dalam bagian awal tulisan ini telah
disinggung beberapa ayat yang diterjemahkan secara keliru sehingga
mengakibatkan pemahaman teologi yang keliru.
Meninjau ulang asumsi peniadaan nama Yahweh,
dalam Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru
Jika hanya mengacu pada naskah Kitab Perjanjian Baru versi Yunani yang tersedia,
kita tidak mendapatkan nama Yahweh secara literal tertulis. Semua nama Yahweh
yang dikutip dari Kitab Perjanjian Lama, oleh naskah Kitab Perjanjian Baru
berbahasa Yunani didasarkan pada naskah Septuaginta yang telah mengganti nama
Yahweh dengan sebutan Kurios dan bukan dari TaNaKh versi Masoretik maupun
Dead Sea Scroll [Naskah Laut Mati] yang usianya lebih tua dari naskah Masoretik.
Maka ketika Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani mengutip Kitab Perjanjian
35 Christianity: New Religion or Sect of Biblical Judaism?, Palm Beach Gardens, Florida: A Messenger
Media Publication, p.89
36 Ibid., p. 90-91
22
Lama akan menuliskannya dengan Kurios. Namun jika membaca naskah Perjanjian
Baru versi Shem Tob, Du Tillet, Crawford, Munster, Old Syriac, Peshitta, nama
Yahweh muncul dalam bentuk “MarYah” [ayrmd “Mar”=Tuan + “Yah”=Yahweh] dan
hvhy serta yy. Dalam Hebraic New Testament Version, terjemahan DR. James
Trimm, nama Yahweh muncul sebanyak 210 kali dalam naskah Kitab Perjanjian
Baru. Berbagai terjemahan Kitab Suci yang telah memulihkan kembali penggunaan
nama Yahweh dalam Kitab Perjanjian Baru al, The Scriptures, The Word of
Yahweh, The Restoration Scriptures, The Sacred Bible, ha Brit ha Khadasha,
dll. Terjemahan-terjemahan tersebut dapat menjadi rujukan dalam melakukan
terjemahan alternatif non Lembaga Alkitab Indonesia.
KESIMPULAN
Eksposisi historis membuktikan bahwa gereja berakar pada Yudaisme dan
melakukan praktek ibadah dengan latar belakang Yudaisme [sabat, moedim,
tefilah,tsedaqah,dll]. Gereja tercabut dari akarnya sejak Abad 2 Ms dan mulai
melepaskan diri dari Yudaisme. Tercabutnya gereja dari akar Yudaisme dipicu oleh
sikap anti semit/anti Yahudi dikalangan bangsa Romawi kuno dan berimbas pada
sikap penganut Kristen di Roma. Mulailah kita menemui berbagai ekspresi doktrin
dan tata ibadah yang menjauh dari Yudaisme seperti ,kepercayaan terhadap Elohim
yang disifatkan dengan sebutan Tritunggal, Ekaristi, Christmass, Easter, Sunday
Worship,dll. Mengingat telah begitu jauh gereja meninggalkan akar keyahudiannya,
maka diperlukan suatu upaya melakukan redefinisi dalam berbagai bidang, baik
teologia, etika dan tata ibadah serta pokok-pokok iman. Redefinisi ini diistilahkan
dengan “Back to the Hebraic root”. Untuk melakukan aplikasi perubahan, diperlukan
pemahaman yang benar terhadap “kembali ke akar ibrani”. Tulisan ini telah
menyediakan beberapa landasan epistemologis dan teologis sebagai bahan
melakukan berbagai redefinisi dan rekonstruksi. Kiranya tulisan ini memberikan
pencerahan dan mendorong untuk melakukan berbagai perubahan yang mendasar.
_____
Materi ini merupakan makalah yang pernah disampaikan di Seminar Mesianik di Wisma PTPM
Yogyakarta, Tgl 27-28 September 2006 dan menjadi BAB I buku Kembali ke Yerusalem, Kebumen:
Nafiri Yahshua Ministry 2006

Tidak ada komentar: