Minggu, 21 Desember 2008

TUHAN Menamai

TUHAN Menamai
Kejadian 1:5
Penciptaan dimulai dari suatu ‘ide’ dalam pikiran Elohim yang kita sebut ‘Davar’ (lihat SUKA edisi sebelumnya). Ide ini kemudian bermanifestasi melalui perkataan dan karya Elohim yang kita sebut ‘Amar.’

Ide awal yang ada dalam Davar Elohim adalah or (terang). Kita sudah membahasnya pada edisi sebelumnya. Namun, harus dipahami bahwa hari pertama dalam penciptaan tidak selesai sampai pada tataran ‘ide’ dan manifestasi semata. Penciptaan pada hari pertama diikuti dengan suatu proses berikutnya yang disebut badal (memisahkan).

Perhatikanlah Kejadian 1:4 “TUHAN melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.”

Dalam naskah Ibraninya, ayat ini berbunyi “Wayyare Elohim eth-ha’or ki-tov wayyavdel Elohim ben ha’or uven hakhoshekh.

Jika kita mencoba memahami maksud teks itu, terjemahan LAI sudah cukup mewakili makna yang hendak disampaikan dalam teks aslinya. Namun, tidak ada salahnya jika kita menggalinya lebih dalam.

Wayyare Elohim

Wayyare Elohim” (dan Elohim melihat). Dalam Bahasa Ibrani, kata wayyare berakar dari kata ra’a. Kata ini memiliki arti yang cukup luas: “menyetujui, memperhatikan, menyadari, dan sebagainya.” Ra’a tidaklah sekedar melihat begitu saja. Ra’a adalah suatu proses evaluasi yang tidak sekedar melibatkan penglihatan, tetapi juga perhitungan dan nalar.

Dalam gambaran sederhana, dapat diibaratkan ketika Anda melihat sebuah lukisan yang menarik menurut Anda. Yang terjadi sebetulnya bukan sekedar melihat, tetapi ada proses mengamati, memperhatikan dengan seksama, meneliti, mengevaluasi, dan akhirnya menyimpulkan. Semakin lama proses ini berlangsung dalam pikiran Anda, maka akan semakin baik kesimpulan yang Anda ambil.

Ketika Elohim menciptakan ‘terang,’ IA mengamati, memperhatikan, meneliti, mengevaluasi dan kemudian menyimpulkan. Artinya, Elohim telah memperhitungkan dengan nalar-NYA, yaitu yang kita sebut Davar, apa yang menjadi hasil ciptaan-NYA.

Namun, hal penting yang harus kita pahami di sini adalah penggunaan kata ra’a (melihat) kepada Elohim tidak bisa disamakan dengan penggunaan kata ra’a pada manusia. Ini hanyalah bentuk anthropomorfis atau cara penggambaran dengan menggunakan pengandaian manusia. Jadi, teks ini bukan mau mengatakan bahwa Elohim memiliki mata dan pikiran sama seperti manusia. IA tidak memiliki mata seperti manusia yang dapat membatasi jangkauan penglihatan-NYA, demikian juga IA tidak memiliki pikiran seperti manusia yang membutuhkan waktu untuk melakukan proses mengamati, memperhatikan, meneliti, mengevaluasi dan menyimpulkan.

Dalam narasi-narasi Perjanjian Lama (PL) berikutnya, kita akan menjumpai banyaknya penggambaran semacam ini. Mengapa? Jawabannya sederhana, sebab P menulis untuk manusia yang membutuhkan jawaban yang sederhana dan mudah dipahami. Di sisi lain, P berhadapan dengan berbagai filosofi kuno di sekitarnya yang juga membutuhkan jawaban atas peristiwa penciptaan alam semesta.

Akibatnya, naskah-naskah P, demikian juga sumber-sumber yang lain, menjadi suatu rangkaian tulisan yang menggabungkan antara pemahaman-pemahaman sederhana di antara pembacanya dengan pemahaman-pemahaman filosofis yang perlu ditafsirkan berdasarkan konteks ketika ia dituliskan.

Ha’or ki-tov

Eth ha’or ki-tov” (bahwa terang itu baik). Dalam contoh sederhana, naskah ini ibarat menceritakan bagaimana seseorang berhasil menyelesaikan tugasnya dan menganggap bahwa tugas yang ia lakukan itu baik. Jadi, “baik” di sini memiliki pengertian yang luas. Ia bisa diartikan sukses, sesuai rencana, menarik, indah, tanpa cacat, dan sebagainya.

Ketika seseorang menilai bahwa apa yang ia kerjakan itu “baik,” maka yang perlu kita ketahui bahwa penilaian itu adalah penilaian pribadi. Artinya, ia tidak memberi penilaian berdasarkan pendapat orang lain. Demikian juga dengan penciptaan terang oleh Elohim. IA menilai bahwa terang itu baik menurut ukuran-NYA. Penilaian ini melengkapi proses penciptaan dengan suatu pujian dari Sang Pencipta itu sendiri. IA menghargai hasil karya-NYA sendiri. Karya itu “baik” di “mata” Elohim, mengandung arti bahwa karya itu “baik” karena Elohim menerimanya dan menghargainya.

Nampaknya ini bukanlah karakteristik yang hanya dimiliki oleh P. Berdasarkan penelitian para ahli sejarah, model penceritaan seperti ini juga muncul di antara cerita-cerita penciptaan bangsa Sumeria. Cerita-cerita yang sama berkembang luas di antara masyarakat Semit lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa cerita ini adalah suatu bentuk pengadopsian dari tradisi yang ada dan berkembang pada waktu itu.

P mengadopsinya dengan sangat baik dan mendandaninya dengan unsur-unsur teologis yang sangat kental dengan semangat monotestiknya. Alhasil, ketika mitos purba bercerita tentang pujian para dewa atas hasil ciptaan mereka, P dengan berani menyatakan bahwa hanya ada satu Pencipta. Dialah yang mencipta, mengevaluasi, memberi nilai, dan akhirnya memuji karya-NYA.

Badal

Kalimat terakhir dari ayat 4 ini berbunyi “wayyavdel Elohim ben ha’or uven hakhoshekh” (dan Elohim memisahkan terang itu dari gelap/kegelapan). Kata wayyavdel berakar dari kata badal, yang artinya “memisahkan” atau “membedakan.”

Mereka yang menolak konsep penciptaan versi Alkitab sering menjadikan ayat ini sebagai argumen untuk penolakan yang mereka lakukan. Menurut mereka, Alkitab pernah berasumsi bahwa terang dan gelap adalah dua hal yang awalnya menyatu. Jadi, ketika Elohim menciptakan terang, pada saat yang sama IA menciptakan gelap. Keduanya adalah satu paket dan satu kesatuan. Di sinilah letak kesalahan Alkitab dalam melukiskan alam semesta, demikian argumen mereka.

Beberapa penafsir Kristen, termasuk John Gill dalam John Gill’s Exposition of the Entire Bible, bersikeras bahwa pada awal penciptaan, terang dan gelap adalah dua hal yang menyatu. Dengan cara apa terang itu bisa memisahkan diri dengan gelap, itu adalah persoalan lain. Jawaban itu hanya ada pada Elohim, dan manusia tidak akan pernah menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Demikian dikatakan Gill.

Penafsir lain mengatakan bahwa sebelum Elohim menciptakan terang, kegelapan itu sudah ada. Dalam ayat 2 dengan jelas dikatakan bahwa pada waktu itu, gelap gulita menutupi thehom. Justru, kehadiran terang itu adalah untuk menerangi kegelapan. Maka, muncullah pertanyaan lain terhadap model pemikiran ini, “Siapa yang menciptakan gelap?”

Jika gelap gulita telah ada sebelum penciptaan hari pertama, berarti ada yang menciptakan kegelapan itu. Ia tidak mungkin ada tanpa ada penyebabnya. Thomas Aquinas mengatakan bahwa pembuktian sederhana akan keberadaan TUHAN adalah dengan melihat alam semesta. Menurut Aquinas, alam semesta ini memiliki penggerak yang tidak digerakkan oleh apapun. Itulah TUHAN. Segala sesuatu bersumber dari-NYA. Bagaimana dengan kegelapan?

Kegelapan rupanya merupakan dimensi lain yang tidak diperhitungkan oleh P. Ia memulai cerita penciptaan dengan penciptaan terang, sementara pada bagian awal ia telah lebih dulu berbicara tentang kegelapan dalam suatu dunia yang ia sebut thehom. Kini, jika kita ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaan, “dari mana kegelapan itu berasal?” dan “siapa pencipta thehom?” maka kita tidak akan menemukan jawabannya pada naskah P ini.

Problemnya tidaklah sesederhana yang kita bayangkan, kegelapan selalu diidentikkan dengan kejahatan dan kekacauan (baca: chaos), maka, jika ia berasal dari Elohim, akan muncul persoalan bagaimana mungkin IA menciptakan kejahatan dan kekacauan? Sementara, jika ia berasal bukan dari Elohim, maka siapa yang menciptakannya? Apakah ada pencipta lain di luar Elohim yang telah menciptakan kejahatan dan kekacauan sebelum Elohim menciptakan shamayim dan erets?

Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada penafsiran kita terhadap kata khosekh. Pada ayat 2, khosekh merupakan suatu istilah simbolis untuk menunjukkan kekosongan atau ketiadaan. Ini untuk menggambarkan bahwa sebelum Elohim menciptakan segala sesuatu, hanya DIA-lah yang eksis, tidak ada yang lain.

Pada ayat 4, khosekh harus dilihat sebagai fenomena alam. Ia digunakan untuk menamakan bagian lain di luar or (terang), yang dapat dilihat oleh manusia. Jadi, kesatuan yang disebutkan oleh Gill barangkali menunjukkan kesatuan kumpulan, dimana di dalamnya terdapat terang dan gelap. Artinya, ketika Elohim menciptakan terang, IA juga menciptakan kegelapan, hanya saja kegelapan belum memiliki nama atau sebutan. Baik terang maupun gelap, sama-sama disebut or.

Untuk itu, agar dua fenomena alam ini dapat dikenali manusia dengan lebih baik, maka muncullah pemisahan dalam pengertian pemberian nama dan penentuan waktu. “Pemisahan” antara terang dan gelap pada ayat ini adalah “pemisahan” dalam makna “pengaturan.”

Elohim menghendaki ciptaan-NYA berjalan secara teratur dalam rancangan-NYA. IA tidak menghendaki adanya kekacauan seperti digambarkan pada ayat 2. Jadi, hal lain yang penting untuk kita maknai dari proses penciptaan adalah “keteraturan” atau “keseimbangan.” IA menciptakan keseimbangan di dunia ini, dan keseimbangan itulah yang harus dijaga oleh manusia [oyr79].

TUHAN Menamai

TUHAN Menamai
Kejadian 1:5
Oleh: Yosi Rorimpandei
“Apalah arti sebuah nama” demikianlah William Shakespeare, sang pujangga Inggris, pernah menulis. Namun, ungkapan ini bukanlah ungkapan yang berlaku di kalangan Semitik, sebab dalam kultur Semit, “nama” justru memiliki arti penting bagi si pemberi nama dan bagi yang dinamakan.
Kejadian 1:5, yang menjadi bahan eksplorasi kali ini, menunjukkan betapa pentingnya arti sebuah “nama” bagi penulis kitab Kejadian dan bagi kultur yang diwakilinya. Naskah ini sekaligus untuk menunjukkan bahwa “menamai” (yiqra, Ibr.) adalah suatu tugas ilahiah yang diemban manusia. Sebab, dengan “menamai,” manusia telah menunjukkan bagaimana melekatnya dia dengan TUHAN, Sang Pencipta. Dengan “menamai” juga, manusia mengukuhkan dirinya sebagai gambar (tselem, Ibr.) dan rupa (demuth, Ibr.) TUHAN, atau yang lebih populer di kalangan Kristen sebagai imago Dei (Lat.).

Berdasarkan teori empat sumber, yang menjadi pegangan kita dalam eksplorasi naskah-naskah Tora (Taurat), Kejadian 1:5 ini masih merupakan bagian dari karya yang berasal dari sumber P. Bagi P, “menamai” merupakan bagian yang sangat penting, dimana melalui proses “menamai” juga terkait konsep “memisahkan”.

Apabila kita mencermati proses penciptaan dalam naskah P, setiap babak penciptaan, proses “menamai” dan “memisahkan” adalah puncak suatu babak sebelum masuk ke babak berikutnya. Artinya, jika kita ingin memahami makna suatu “penciptaan,” kita tidak bisa berhenti sampai pada proses “mencipta” itu sendiri. Proses-proses yang mengikutinya adalah proses-proses yang tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu kesatuan utuh dengan proses “mencipta.”

Perhatikan apa yang sudah kita bahas sebelumnya! Penciptaan hari pertama diawali dengan penciptaan terang, kemudian disusul dengan pemisahan antara terang dan gelap, diakhiri dengan penamaan setiap elemen ciptaan. Karena itu, sebagaimana telah dibahas sebelumnya, penciptaan hari pertama bukanlah sebatas penciptaan terang, bukan juga penciptaan siang dan malam. Semuanya merupakan suatu rangkaian proses yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.

Menurut tradisi Semitik, penamaan adalah bagian yang tak terpisahkan dengan penciptaan sejak awal. Dengan kata lain, “menamai” paralel dengan “menciptakan”, sebagaimana juga kita temukan dalam naskah-naskah kuno lainnya di luar Alkitab, semisal Enuma Elish di Mesopotamia.

“Menamai” dan “menciptakan” dikatakan paralel dapat dijelaskan dengan identiknya nama dan yang dinamakan. Itulah sebabnya, pemberian nama dalam budaya Semitik sangatlah penting, termasuk perubahan nama, seperti dialami oleh Abraham, Sara, Yakub, dan sejumlah leluhur Israel. Pengaruh budaya ini terpelihara dengan sangat baik dalam dunia Yudais, sehingga pemberian nama Yesus pun tidak lepas dari pengaruh ini. Demikian juga dalam kasus Simon yang oleh Yesus diberi nama Kefas atau Petrus.

Namun, menamai bukan sekedar menunjukkan karakter yang dinamai. Menamai, dalam tradisi Semitik juga menunjukkan kuasa dari si pemberi nama atas apa yang dinamai. Itulah sebabnya dalam 2Raja-raja 23:34 dan 24:17, Firaun dan raja-raja Babel memberi nama kepada raja-raja yang mereka taklukkan.

Dengan demikian, menamai memiliki dua makna teologis: pertama, untuk menunjukkan identitas dari apa yang dinamakan, sekaligus menunjukkan tujuan penciptaannya; dan kedua, untuk menunjukkan bahwa si pemberi nama berkuasa atas apa yang dinamakan.

TUHAN, dalam ayat ini, dikatakan “menamai” terang dan gelap. Ada dua hal yang sangat penting dalam bagian ini: Pertama, untuk menunjukkan bahwa TUHAN memiliki kekuasaan, baik atas terang maupun gelap. Artinya, bukan hanya terang yang berada dalam kuasa TUHAN, melainkan juga gelap. Gelap bukanlah dimensi lain yang terlepas dari proses penciptaan itu, sehingga teori yang mengatakan bahwa kegelapan berada di luar kuasa TUHAN adalah teori yang bertentangan dengan konsep pemikiran P.

Kedua, inisiatif “menamai” (yiqra, Ibr.) adalah inisiatif yang pertama kali berasal dari TUHAN. Memberi nama adalah salah satu tugas ilahi yang kemudian diembankan kepada manusia sebagai imago Dei.

Petang dan Pagi

“Jadilah petang dan jadilah pagi” (wayehi-‘erev wayehi-voqer) adalah kalimat yang selalu menutup setiap babak penciptaan. Bagi beberapa penafsir Perjanjian Lama (PL) seperti H. R. Stroes, kalimat ini untuk menunjukkan bahwa permulaan hari itu adalah pada petang atau pagi hari.

Almanak Gregorian atau Kalender Masehi memulai harinya pada pagi hari, sedangkan almanak Ibrani memulai harinya pada petang hari. Menurut Stroes, kalimat ini mengungkapkan bahwa tidak ada perhitungan hari yang dimulai pada siang atau malam hari.

Namun, pendapat ini tidak banyak diterima. Pada kenyataannya kalender Romawi memulai perhitungannya pada tengah malam. Lagipula, tidaklah relevan untuk menggunakan pemahaman itu dalam memahami maksud penulisan naskah ini oleh P. Ini hanyalah petunjuk waktu bagi P sekaligus untuk menciptakan model paralel antar babak penciptaan yang memang khas dalam sastra Ibrani.

Penyebutan petang (‘erev) sebelum pagi (boqer) mendapat pengaruh dari perhitungan hari dalam tradisi Yudaisme. Secara filosofis-teologis, perhitungan semacam ini untuk menunjukkan arah tujuan hidup manusia, bahwa manusia bergerak dari kegelapan menuju terang, bukan sebaliknya (sebagaimana perhitungan kalender masehi yang kini kita gunakan).

Makna filosofis-teologis ini sekaligus untuk menunjukkan periode penciptaan yang dimulai dari periode chaos kepada periode harmonis. Sayangnya, filosofi yang sangat identik dengan makna ekklesia (gereja/jemaat) ini tidak dipertahankan oleh kekristenan modern, yang akibat terlalu akrab bercengkerama dengan budaya Romawi-Hellenis, sehingga menguburkan tradisi asalnya.

Hari

Pertanyaan yang selalu muncul antara para saintis dan teolog adalah apakah dunia ini diciptakan dalam tujuh hari? Dalam dunia sains, teori mengenai asal-usul dunia dan kehidupan telah berkembang dalam beragam teori, sementara, para teolog tidak punya sumber lain untuk menyusun teori baru soal penciptaan, selain tunduk pada apa kata alkitab.

Jalan alternatif yang coba ditempuh adalah mengaitkan kata “hari” (yom, Ibr.) dengan kata yang sama dalam Mazmur 90:4, dimana satu hari sama dengan seribu tahun. Pandangan ini sangat terkenal di kalangan Qabbala Yahudi. Menurut mereka, proses penciptaan terjadi dalam tujuh ribu tahun. Apakah betul penciptaan hanya terjadi dalam tujuh ribu tahun?

Payne Smith dalam tafsirnya terhadap kitab Kejadian berpendapat lain. Menurutnya, yom tidaklah merujuk pada periode dua puluh empat jam, melainkan menunjukkan suatu aeon, yaitu periode waktu yang indefinitif (tak tentu atau tak terbatas). Dengan demikian, menurut Smith, hari ketujuh merujuk pada periode sekarang dan akan terus berlangsung sampai pada kesudahan dunia, dimana manusia telah mengonsumsi semua materi.

Pandangan ini sangatlah populer, baik di kalangan Yahudi maupun Kristen. Namun, pandangan ini terlalu dipaksakan. Smith seakan-akan mau mengatakan bahwa periode sekarang adalah periode bagi TUHAN untuk beristirahat dan mengabaikan pandangan yang mengatakan bahwa proses pembentukan bumi masih terus berlangsung hingga kini.

Jelas bahwa kita tidak bisa memaksakan teologi P untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sains, sebab P tidak menulis suatu karya ilmiah untuk dunia sains. P sedang menjawab kebutuhan teologis umat mengenai penciptaan dan dia membahasakannya dalam bahasa teologis. Kita harus memerhatikan bahwa P dengan jelas menggambarkan yom itu sebagai satu hari dalam perhitungan kalender dan penciptaan terjadi dalam satu minggu. Pandangan ini jelas, sebab P menggunakan petunjuk waktu yang jelas: ‘erev (petang) dan boqer (pagi).

Lalu, apakah kita dengan alasan agama kemudian harus mengabaikan temuan-temuan sains dan memaksakan diri untuk menerima apa adanya kata alkitab? Tidak juga! P tidak sedang berbicara tentang asal-usul dunia secara kronologis dan ditail. Intinya, ia sedang mengungkapkan suatu teologi dasar bahwa dunia ini diciptakan TUHAN dalam suatu proses yang teratur. Setiap proses memiliki makna tersendiri bagi kehidupan umat. Karena itu, hendaknya umat mengucap syukur atas ciptaan TUHAN yang luar biasa ini dan menghargainya serta mengusahakannya secara bertanggung jawab.

Bagaimana dengan urutannya? P tidak menggunakan urutan kronologis, melainkan urutan liturgis yang menjadi tanda bagi umat untuk memaknai hidupnya dalam suatu ungkapan syukur dan refleksi diri.

Pertama

Teks Ibrani menggunakan kata ekhad, yang seharusnya diartikan “satu” bukan “pertama.” Kata ekhad dalam bahasa Ibrani merupakan bilangan kardinal (satu), bukan bilangan ordinal (pertama). Para penerjemah Alkitab menerjemahkan “pertama” karena hari kedua hingga ketujuh menggunakan bilangan ordinal.

Bagi para rabbi Yahudi, penggunaan bilangan kardinal tidak sekedar untuk menunjukkan urutan waktu, tetapi juga untuk memaknai hari itu. Menurut mereka, “hari satu” atau “hari yang satu” untuk menegaskan bahwa TUHAN sendiri yang menciptakan dunia ini.

Rabbi Naftali Silberberg, seorang pakar Talmud dari Amerika Serikat, mengutip penjelasan dari Talmud Khagiga 12a, mengatakan bahwa TUHAN telah menciptakan segala sesuatu pada hari pertama. Hari-hari selanjutnya, TUHAN hanya menata semua yang telah IA ciptakan. Ia mencontohkan matahari dan bulan. Menurutnya, matahari dan bulan telah diciptakan pada hari pertama, namun, baru diletakkan pada orbitnya pada hari keempat.

Dalam pemaknaan yang lebih dalam, para penafsir seperti Wenham melihat pada bentuk kesejajaran teks

1 - 4

2 - 5

3 - 6

7

Hari pertama sejajar dengan hari keempat. Inti hari pertama adalah “terang” dan inti hari keempat adalah “benda penerang.” Hari pertama, TUHAN memisahkan terang (siang) dan gelap (malam). Hari keempat, TUHAN menciptakan benda-benda angkasa yang memisahkan terang (siang) dan gelap (malam).

Wenham mengaitkan hal ini dengan liturgi Yahudi, dimana hari ketujuh merupakan hari untuk beristirahat penuh. Penjelasan Wenham cukup logis, mengingat naskah-naskah P sangat kaya dengan penjelasan mengenai asal-usul liturgi Yahudi [oyr79]


Gembala-gembala di Padang

Cerita mengenai para gembala di padang menjadi salah satu peristiwa yang selalu mewarnai perayaan Natal di berbagai gereja. Lukas memang menyajikan cerita ini dengan sangat baik. Namun, harus kita ingat bahwa Lukas tidak pernah menuliskan suatu cerita yang lepas dari tujuan penulisan kitabnya.

Cerita ini, di samping memberi kita data tambahan untuk kelengkapan historis, khususnya mengenai kapan Yesus lahir, juga menambah narasi doksologi dengan kelahiran Sang Juruselamat. Lukas, tanpa kehilangan karakteristiknya, berusaha menggambarkan bagaimana TUHAN menyapa realitas sosial yang sebelumnya tidak disapa lagi oleh agama, khususnya orang-orang yang merasa beragama.

Dalam narasi ini, Lukas menampilkan bagaimana para gembala yang selama ini menggembalakan hewan-hewan kurban, kini menerima kabar gembira atas lahirnya Gembala Agung, sekaligus Kurban Suci itu sendiri.

Di Daerah Itu...

En te khora te aute” bisa juga diartikan “di daerah atau wilayah yang sama”, yaitu di daerah atau wilayah Yudea, di sekitar Betlehem (Luk. 2:4). Betlehem disebut “Kota Daud”, sebab Daud berasal dari sana (1Sam. 17:12). Dalam Bahasa Ibrani, kata “Betlehem” (Beth Lekhem) berarti “Rumah Roti” dan merupakan salah satu kota tua di Palestina.

Meskipun Daud berasal dari Betlehem dan sangat mengasihi kota itu (2Sam. 23:15), namun Daud tidak melakukan apa-apa terhadap kota itu. Betlehem sendiri termasuk kota yang tidak begitu diperhitungkan di kalangan umat Yahudi pada zaman Perjanjian Lama. Meski demikian, Nabi Mikha menubuatkan kelahiran Mesias dari kota kecil itu (Mi. 5:2).

Betlehem adalah kota yang subur. Di sana terdapat padang rumput, sehingga memungkinkan para gembala untuk menggembalakan ternak mereka. Di sana juga terdapat padang Yaar (Mzm. 132:6) yang kaya akan pepohonan, serta menara Edar (Migdal-Edar) sebagai bukti bahwa di sana merupakan tempat yang baik untuk menggembalakan ternak (Kej. 35:21). Di kota inilah Daud menggembalakan domba ayahnya (1Sam. 17:15).

Gembala-gembala di Padang...

Di dalam Mishna disebutkan bahwa domba-domba dari Betlehem diperuntukkan sebagai kurban dalam ibadah-ibadah di Bait Suci. Karena itu, para gembala (poimenes) yang menjaga kawanan domba di sana bukanlah gembala biasa. Mereka bukanlah gembala-gembala yang dianggap sebagai masyarakat kelas dua dalam struktur sosial Yahudi pada waktu itu. Mereka adalah gembala-gembala yang dihormati.

Memang dalam tradisi Yahudi kemudian, mereka termasuk dalam kelompok yang disingkirkan dalam tradisi keagamaan Yahudi oleh para Rabbi. Mereka disingkirkan lantaran sikap mereka yang cenderung mengasingkan diri dari peraturan-peraturan agama.

Beberapa seniman sering menggambarkan gembala-gembala itu di tengah padang di malam hari hanya dilindungi dengan pakaian mereka. Namun, dalam masyarakat Yudea pada waktu itu, biasanya gembala-gembala tinggal di kemah-kemah atau pondok-pondok selama mereka menjaga kawanan domba. Sesekali mereka keluar untuk memastikan bahwa kawanan domba mereka dalam keadaan baik.

Dari Mishna yang sama dikatakan bahwa kawanan domba itu mulai berada di sana tiga puluh hari sebelum Paskah Yahudi, yaitu pada bulan Adar menurut kalender Ibrani (sekitar bulan Maret dalam kelender Masehi). Pada waktu itu, Palestina mulai memasuki musim penghujan.

Pada bulan Kheshwan (sekitar bulan November), kawanan domba itu dibawa pulang dari padang. Artinya, para gembala dan kawanan domba itu berada di padang antara bulan Adar sampai Kheshwan atau sekitar bulan Maret sampai November. Clement dari Aleksandria mengatakan bahwa kelahiran Yesus (Natal) terjadi pada tanggal 21 April, sementara pendapat lain mengatakan 22 April. Ada juga yang mengatakan bahwa Natal seharusnya dirayakan pada 20 Mei.

Gereja Katolik, Protestan, dan beberapa Gereja Ortodoks merayakan Natal pada 25 Desember, sedangkan Gereja Ortodoks Koptik, Yerusalem, Rusia, Serbia, dan Georgia, merayakan Natal pada 7 Januari. Gereja Armenia justru lebih menekankan pada peristiwa Epifania (kedatangan orang majus) ketimbang Natal.

Banyak upaya untuk mempertahankan agar Natal tetap diperingati pada tanggal 25 Desember, termasuk oleh Hippolytus yang mendasarkan perhitungannya pada masa pemerintahan kaisar Augustus.

Namun, tanggal 25 Desember, dalam kalender Ibrani bertepatan dengan bulan Kislew dan Teveth dalam kelender Ibrani. Pada bulan ini, Palestina berada pada musim dingin. Tidak ada bukti historis yang mendukung bahwa para gembala tetap berada di padang pada musim dingin, apalagi di malam hari.

Adanya upaya di kalangan gereja tertentu untuk mencari tanggal yang lebih tepat untuk merayakan Natal dapat diterima sebagai suatu kewajaran. Namun, upaya-upaya itu pun hanya akan memunculkan kebingungan dan polemik yang tidak esensial. Pada kenyataannya, perhitungan kalender Masehi mengalami masalah sehingga mengharuskan ditambahkannya satu hari untuk bulan Februari setiap empat tahun (kabisat).

Setelah diperhitungkan kembali, para ahli akhirnya menyimpulkan bahwa Yesus lahir sebelum tahun Masehi. Dengan demikian, sia-sialah mencocok-cocokkan kalender Masehi dengan tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya. Masalah yang sama terjadi dalam penanggalan Ibrani.

Kelender Ibrani berdasar pada tiga fenomena astronomi: rotasi bumi (sehari), revolusi bulan atas bumi (sebulan), dan revolusi bumi atas matahari (setahun). Ketiganya tidak saling berhubungan. Rata-rata bulan berputar mengitari bumi dalam 29½ hari, sedangkan bumi mengitari matahari sekitar 365¼ hari atau 12,4 bulan lunar. Karenanya, untuk mendapatkan jumlah yang tepat, maka jumlah hari dalam sebulan kalender Ibrani adalah 29 atau 30 hari sesuai perputaran bulan, sedangkan jumlah bulan dalam setahun kalender Ibrani adalah 12 atau 13 bulan sesuai perputaran matahari, dimana tahun dengan jumlah bulan 13, disebut Shana Me’ubereth (Tahun Hamil) atau kabisat dalam istilah Indonesia.

Masalah utama dalam kalender Ibrani adalah perhitungan 12,4 bulan dalam satu tahun matahari. Artinya, jika setahun dihitung 12 bulan, kalender mengalami kekurangan sekitar 11 hari setiap tahunnya, sedangkan jika dihitung 13 bulan, maka kalender akan mengalami kelebihan 19 hari dalam setahun. Akibatnya, bulan yang seharusnya jatuh pada musim semi, karena kesalahan perhitungan dapat jatuh pada musim dingin.

Menghadapi problem ini, pada zaman dahulu, Sanhedrin menetapkan bahwa Paskah Yahudi jatuh pada musim semi. Artinya, jika dalam setahun, Paskah tidak jatuh pada musim semi, maka Sanhedrin akan menambahkan satu bulan dalam setahun. Model perhitungan ini bertahan sampai abad keempat masehi. Dengan demikian, kita tetap akan menemukan kesulitan melacak kelahiran Yesus berdasarkan kalender Ibrani.

Kalender Ibrani baru menemukan bentuknya yang tepat pada abad keempat, ketika Hillel II menetapkan kalender Ibrani berdasakan perhitungan matematika dan astronomi. Perhitungan Hillel II adalah dengan menambahkan bulan Adar menjadi dua, yaitu I Adar dan II Adar. Penambahan satu bulan dilakukan pada tahun ke-3, 6, 8, 11, 14, 17, dan 19 dalam satu putaran (19 tahun).

Pada Waktu Malam...

Yesus lahir pada waktu malam. Puncak karya penebusan pun terjadi pada waktu malam. Berdasarkan tradisi Yahudi, Mesias datang di tengah malam. Dengan demikian, narasi ini menggenapi setiap nubuatan dalam Perjanjian Lama, bahwa Mesias akan lahir di Betlehem Efrata, Kota Daud, di malam hari [oyr79]

Keesaan TUHAN

Keimanan agama Kristen berakar-tumbuh dan berkembang dari agama Yahudi, di mana memiliki keyakinan monoteisme yang ketat, suatu kewajiban umat Perjanjian Lama (PL) mengucapkan syahadat (pengakuan iman)-nya, yang di sebut shema’ i) (Ul. 6:4; 1 Tim. 2:5; Yoh. 17:3).

Taurat mengawal monoteisme

Kemurnian keimanan itu dipertegas dalam Tenakh (PL); jangan mempersekutukan TUHAN dengan apapun (Kel. 20:3-5a; Yes. 44:6b; 45:5a, 6b; 46:9c)

TUHAN itu Roh

YHWH itu Esaii, yang kita sapa dengan sebutan "Bapa", yang tidak berwujud – tidak beraga – tidak berjasmaniah – karena YHWH itu Roh – Ghaib – Terang. Tidak ada persamaan-NYA – tidak ada yang menyamai-NYA – tidak ada bandingan-NYA – tidak ada tandingan-NYA – tidak ada sandingan-NYA – tidak ada yang serupa dengan Dia.

YHWH Maha Hadir (omnipresent), Maha Kuasa (omnipotent), Maha Tahu (omniscient), tidak terbatas (infinitas), melampaui batas (unlimited) (Mzm. 139:7-8)

(Yes. 46:5 band. Yoh. 4:24; 1Yoh. 1:5; Hos. 11:9; Yes. 46:9; 1Kor. 8:6; 2Kor. 3:17-18; Mrk. 12:29; Ayb. 9:11; Yoh. 6:46; 1Tim. 1:17; 6:16)

Kebagaimanaan Dzat dan Sifat YHWH Yang Sehakekat

YHWH Yang Maha Esa dalam Dzat-NYA atau Ousia dan berada dalam cara-cara berada-NYA atau "kebagaimanaan" YHWH itu disebut hypostasis atau "Sifat"-NYAiii. Dalam keesaan dan kekekalan YHWH sudah memiliki Roh (Pneuma tou Hagiou) dan Firman (Logos tou Theou) (lihat Kej. 1:1-3)

Roh dan Firman berada di dalam Dzat-NYA dalam kekekalan dan keesaan, yang sehakekat (homoousios) – sederajat dan melekativ (Yoh. 1:1)

TUHAN Kekal

Roh dan Firman tidak diciptakan oleh YHWH. Sudah ada dalam kekekalan dan keesaan YHWH. Dua sifat mutlak di dalam diri YHWH, harus ada – wajib ada – mustahil tidak ada (Kej. 21:33; Ayb. 36:26; Yes. 26:4; 40:28)

TUHAN itu Hidup

Kalau Roh dan Firman diciptakan oleh YHWH, berarti YHWH sempat tidak punya Roh dan Firman (Maha Suci YHWH dari segala kekurangan), bagaimana YHWH yang tidak punya Roh bisa menciptakan roh yang menghidupkan, atau kalau tidak punya firman, dengan firman apa YHWH menciptakan Firman (Segala sesuatu dijadikan oleh firman) (Tulisan, perkataan, dan nyala api). Kita menentang pendapat Arius dan kamu Nestorian yang menyatakan "Pernah ada waktu Firman belum ada"
(Yos. 3:10; Ul. 32:40; Yer. 10:10)

Kesehakekatan Dzat dan Sifat

Dzat dan Sifat dapat dibedakan, tetapi sekaligus tidak bisa dibedakan.

Sifat itu bukan Dzat tetapi bukan juga bukan Dzat

1. En arkhe en ho logos – Firman YHWH sebagai eksistensi kekekalan di dalam YHWH. Satu dengan YHWH di dalam Dzat-NYA

2. Kai ho Logos en pros ton Theon – "bersama-sama" (pros) menunjukkan perbedaan antara Firman sebagai Sifat dengan YHWH sebagai Dzat – lebih menunjukkan kebagaimanaan YHWH itu – atau cara keberadaan-NYA

3. Kai Theos en ho Logos – menyatakan kehadiran Firman-NYA itu bukan hanya berasal dari YHWH, tetapi juga menunjukkan kesatuan-NYA sehakekat dengan YHWH dan melekat dalam Dzat YHWH itu sendiri (qaimah)

PERJANJIAN LAMA

Abraham ~ Monoteisme Keluarga

Abraham berasa dari Ur-Kasdim. Suatu wilayah di Mesopotamia kuno yang menganut paham politeisme. Ayahnya, Terah, adalah seorang pengembara yang membawa Abraham ke Haran (Kej. 11:31)

Awal pergumulan Abraham adalah ketika ia memutuskan untuk pergi dari Haran ke suatu tempat yang tidak ia ketahui. Keputusan itu merupakan bukti awal ketaatan Abram kepada TUHAN Yang Esa (Kej. 12)

Abraham sudah mengenal ‘YHWH’. Namun, Nama El lebih berpengaruh baginya.
El memperkenalkan Diri-NYA sebagai El Shaddai (TUHAN Yang Maha Kuasa), Abraham juga memberi nama Yisma’el (El mendengar).

El merupakan nama umum bagi Tuhan di dunia Semitik (bandingkan Il dalam Bahasa Arab). Nama inilah yang paling tua yang dikenal dalam sejarah Israel (Kej. 12:8; 17:1)

Monoteisme Abraham selain merupakan pergumulan teologisnya juga bersumber dari luar. Ia menerima berkat dari seorang raja Salem, imam El ‘Elyon (TUHAN Yang Maha Tinggi). Seorang yang juga monoteis, sehingga Abraham memberikan persepuluhan (ma’aser) (Kej. 14:18-20). Namanya diubah dari Abram (Bapak Tertinggi) menjadi Abraham (Bapak Orang Beriman) sebagai tanda perjanjian El, disamping sunat (mul) (Kej. 17:5, 11)

Perjanjian antara El dengan Abraham menjadi perjanjian kekal antara Abraham dan keturunannya : hegim berith dan asher karat (Kej. 17:4-8)

Elohe Avraham

Kepada keturunannya, El Yang Esa itu diperkenalkan sebagai Elohe Avraham
(TUHAN Abraham) (Kej. 28:13; 31:42; 31:53; Kel. 3:6; 3:15,16; 4:5; 1Raj. 18:36; 1Taw. 29:18; 2Taw. 30:6; Mzm. 47:9)

Rumusan ini diakui Perjanjian baru (PB)

Rumusan Elohe Avraham, Elohe Yitskhaq, dan Elohe Ya’aqov berlangsung menjadi pengakuan iman yang semestinya dipelihara sampai pada umat PB (Mrk. 12:26; Kis. 7:32)

Musa ~ Monoteisme Bangsa

Musa mempelajari berbagai pengetahuan (termasuk agama) dari ibunya (suku Lewi), yang merawat Musa selama di Mesir, di Istana Firaun (Mesir), dan dari Yitro, mertuanya, seorang imam suku Keni, Midian. Yitro pernah mengutus Musa dengan berkat Midian. Yitro juga mengenal YHWH (Kel. 2:1-10; 2:16, 23; 3:1; 4:18; 18:1-27)

Perkenalan Musa dengan TUHAN menggunakan nama El. Namun, Musa kemudian lebih memelihara nama YHWH, meskipun YHWH masih dianggap sebagai Tuhan bangsa, yaitu TUHAN orang Ibrani (YHWH, Elohe Ha’ivriyyim), TUHAN Israel (YHWH, Elohe Yis’rael)

Nama YHWH dianggap sebagai bentuk singkat dari nama Ehye Asher Ehye (AKU ADALAH AKU); YHWH adalah El yang disembah oleh Abraham, Ishak, dan yakub. Namun, nama ini menjadi sangat khas mulai dari zaman Musa, dengan konsep: Aku Ada, Aku Berada, dan Aku Bekerja.

Nama YHWH memiliki peran signifikan dalam misi Musa membangun Israel. Menurut Ilil Arbel, ketika Musa membawa Israel keluar dari Mesir, setiap suku Israel memiliki panji sendiri-sendiri yang mengilustrasikan tentang Tuhannya. Nama YHWH diperkenalkan kepada Israel untuk menyatukan keberagamaan panji itu [Ilil Arbel, "Yahweh" dalam Encyclopedia Mythica] (Kel. 3:6; 3:14-15; 5:1, 3; 7:16; 9:1, 13; 10:3; 32:27; 34:23; Bil. 16:9) -- "Dengarlah Israel, YHWH itu Tuhan kita, YHWH itu Esa!" (Ul. 6:4)

Yesaya ~ Monoteisme Universal (Monoteisme Dinamis)

Monoteisme Universal atau Monoteisme Dinamis lahir dari kesadaran akan adanya cinta YHWH kepada bangsa lain di luar Israel. Monoteisme model ini dipelopori oleh para nabi : Amos, Hosea, proto-Yesaya, Yeremia, dan nabi-nabi pasca pembuangan di Babel (Amos 1-2; 9:7, 11-15; Hos. 11:5; Mi. 4:1; Yer. 32:27). Kitab-kitab sastra juga menceritakan tentang YHWH yang mengasihi bangsa lain (Yunus & Rut)

YHWH itu Esa; YHWH itu kekal (Yes. 44:6; 45:5-6; 46:9)

PERJANJIAN BARU

Kristus dan Monoteisme

Yesus mengajarkan untuk menyembah YHWH Yang Esa (Mat. 4:10; Mrk. 12:29)

Endnotes:

i Baca uraian tentang Shema’ oleh Kaufmann Kohler (Kaufmann Kohler, "Shema’", dalam Jewish Encyclopedia

ii Band. Pengakuan Iman Rasuli, Pengakuan Iman Nikea-Konstantinopel, Pengakuan Iman Westminster, dlsb

iii Thomas Aquinas mengatakan "Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah cara berada ilahi yang berdiri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan persona adalah cara berada" (lihat Harun Hadiwijono, Iman Kristen, hlm. 109)—"persona" adalah terjemahan Latin untuk kata hypostasis

iv Dalam istilah lain dikatakan: co-equal dan co-eternal (sehakikat, satu tabiat, satu kekuatan, satu tindakan, dan satu kehendak)

Rujukan-rujukan yang disarankan:

Bavinck, Herman. Reformed Dogmatics: God and Creation, vol. 2

Catechism of The Catholic Church

Hadiwijono, Harun. Iman Kristen

Lohse, Bernhard. Pengantar Sejarah Dogma Kristen

Orr, James. The Christian View of God and The World

Pengakuan Iman Nikea (baca juga tambahan hasil Konsili Konstantinopel)

Pengakuan Iman Rasuli

Pengakuan Iman Westminster

Schaff, Philip. Creeds of the Evangelical Protestant Churches vol. III. (buku ini berisi kumpulan pengakuan iman dan katekismus mulai dari Konfesi Augsburg, 1530, hingga Proposal-proposal Presbyterian, 1930)

Strong, Augustus Hokins. Systematic Theology: The Doctrine of God (vol. I).


Tefilla Happatha dan Tefilla Abinu

Tefilla Happatha

Beshem Eloah Harakhman Harakhimim
Hodu la-YHWH Rabun Ha‘olamim
Harakhman Harakhimin, Melekh Yom Haddin
Elekha na‘bod Adonai le’orekh yamim
Neheni be’orakh mishor lehayyim
Lalekheth be’orakh hatstsadiqqim
Lo halakh be‘etsath risha‘im welo hassagim
Amen

Dengan Nama (Eloah - TUHAN) Maha Pengasih Maha Penyayang
(Ezra 5:1; Daniel 9:9)

Syukur kepada (YHWH - TUHAN), Penguasa semesta alam
(Liturgi Yahudi)

Maha Pengasih, Maha Penyayang, Raja Hari Pengadilan
(Terminologi Yahudi)

Kepada-Mulah kami beribadah, ya (TUHAN - Adonai), untuk selamanya
(Mazmur 30:9)

Bimbinglah kami senantiasa ke jalan yang lurus menuju kehidupan
(Mazmur 27:11)

yaitu menurut jalan orang-orang yang benar
(Ulangan 8:6)

Bukan menurut nasihat orang fasik dan bukan orang sesat
(Mazmur 9:21)

Amin

Tefilla Abinu

Abinu shebashshamayim
Yithqaddash shemekha
Tabo malkhuthekha
Ye‘ase retsonekha
Ka’asher bashshamayim gam-ba’arets
Eth-lekhem khuqenu ten-lanu hayyom
Umekhalanu ‘alkhobothenu
Ka’asher makhalnu gam-anakhnu lekhayyabenu
We’al-tebenu lide nissayon
Ki ’im-tekhaltsenu min-hara‘
[Ki lekha hammamlakha wehaggebura
Wehatif’ereth le‘olme ‘olamim
Amen]

BAPA kami yang di surga,
Dikuduskanlah nama-MU,
datanglah Kerajaan-MU,
jadilah kehendak-MU di bumi seperti di surga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
dan ampunilah kami akan kesalahan kami,
seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
[Karena ENGKAU-lah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan
sampai selama-lamanya.
Amin]

Matius 6:9b-13

HARI RAYA GEREJAWI

HARI RAYA GEREJAWI

Tahun Baru
1 Januari

* Perayaan tahun baru Masehi sekaligus perayaan ulang tahun (yom hulledeth) Kemah Abraham

Natal
25 Desember

* Perayaan kelahiran Yesus Kristus (Yeshu'a Hammashiakh). Perayaan Natal diselenggarakan secara berbeda-beda oleh banyak gereja. Gereja Apostolik Armenia misalnya merayakan Natal pada 6 Januari, sementara Gereja Ortodoks Timur merayakannya pada 7 Januari. Perbedaan perhitungan pada kalender Masehi disebabkan karena Yesus
(Yeshu'a Hammashiakh)dilahirkan sebelum kalender Masehi diadopsi oleh gereja.

Kemah Abraham menghargai setiap perbedaan tersebut, sebab masing-masing gereja memiliki landasan perhitungan yang berbeda. Penulis sendiri masih mengikuti usulan Origenes pada tahun 273 M, yang memilih 25 Desember sebagai "Hari Natal." Perayaan Natal pada 25 Desember kemudian diresmikan oleh Kaisar Konstantinus pada tahun 336 M.

Jumat Agung

* Peringatan wafatnya Yesus Kristus (Yeshu'a Hammashiakh). Perhitungan hari peringatan Jumat Agung berbeda setiap tahunnya dalam kalender Masehi, sebab Jumat Agung selalu jatuh pada hari Jumat, biasanya diperingati pada hari Jumat bertepatan dengan Yom Pesakh Ibrani. Kemah Abraham sendiri mengikuti perhitungan kalender gerejawi umum di Indonesia.

Paskah

* Peringatan kebangkitan Yesus Kristus (Yeshu'a Hammashiakh). Perhitungan kebangkitan Yesus Kristus juga berbeda setiap tahunnya dalam kalender Masehi.

Paskah berasal dari kata Pesakh (Ibrani) yang artinya "melewati." Perayaan Pesakh dalam tradisi Ibrani dilakukan pada 15 Nisan (menurut kalender Ibrani). Biasanya perhitungan hari perayaan Paskah bagi gereja menyesuaikan dengan Pesakh Ibrani. Perbedaannya, Paskah Kristen selalu jatuh pada hari Minggu, yang diyakini sebagai hari kebangkitan Yesus Kristus.

Kenaikan Yesus Kristus

* Peringatan terangkatnya Yesus Kristus (Yeshu'a Hammashiakh) ke surga. Perayaan ini dihitung 40 hari setelah Paskah.

Pentakosta

* Peringatan turunnya Roh Kudus (Ruakh Haqqodesh) kepada para rasul (thalmidim) sesuai janji Yesus Kristus (Yeshu'a Hammashiakh) sebelum Ia terangkat ke surga. Perayaan ini dihitung 50 hari setelah Paskah atau 10 hari setelah kenaikan Yesus Kristus.

HARI RAYA IBRANI

HARI RAYA IBRANI

Rosh Hashshana
1 Tishre

* Umumnya Rosh Hashshana dikenal sebagai "Tahun Baru Ibrani." Namun, sebetulnya Rosh Hashshana memperingati tiga hal penting, yaitu:

(1) penciptaan manusia,

(2) ketika Abraham diuji imannya, dan

3) ketika TUHAN menghakimi manusia.

Yom Kippur
10 Tishre

* Dalam Alkitab Terjemahan Baru Lembaga Alkitab Indonesia (TB LAI), Yom Kippur diterjemahkan "Hari Pendamaian." Yom Kippur adalah hari raya yang paling khidmat dalam tradisi Ibrani. Biasanya diisi dengan berpuasa, yang dimulai pada 25 jam sebelum matahari terbenam. Yom Kippur diisi dengan pengakuan dosa serta pemulihan hubungan manusia dengan TUHAN.

Sukkoth
15-21 Tishre

* Dalam Alkitab disebut juga Hari Raya Pondok Daun. Sukkoth dirayakan untuk memperingati masa-masa ketika orang-orang Ibrani berada di padang gurun menuju Kanaan. Selama di padang gurun, mereka tinggal di tempat-tempat tinggal sementara berupa pondok-pondok kecil yang terbuat dari dedaunan. Tempat-tempat tinggal itu mereka sebut "sukka."

Sukkoth juga merupakan perayaan hasil panen. Banyak orang menyebut hari raya ini dengan sebutan "Hari Raya Tabernakel" atau "Feast of Tabernacle" tetapi sebutan ini keliru, sebab Sukkoth tidak merujuk pada tabernakel.

Khanukka
24 Kisleu - 2 Teveth

* Khanukka sering dianggap sebagai Natal Yahudi, sebab pada hari raya ini, orang-orang Yahudi menyalakan lilin di rumah-rumah mereka. Khanukka sebetulnya adalah peringatan kembalinya fungsi Bait Suci Salomo sebagai tempat ibadah, setelah sebelumnya dijadikan tempat penyembahan dewa Zeus oleh kaisar Yunani.

Khanukka dirayakan selama delapan hari untuk memperingati mujizat ketika minyak lampu di menora (tujuh kaki dian) yang seharusnya hanya cukup untuk satu hari, ternyata mampu bertahan sampai delapan hari.

Purim
14 Adar

* Purim adalah peringatan bebasnya orang-orang Yehuda dari persekongkolan keji oleh Haman di Persia. Persekongkolan itu berhasil dibongkar oleh Ratu Ester. Purim harus diisi dengan penuh kegembiraan dan sukacita.

Pesakh
15-22 Nisan

* Pesakh adalah peringatan ketika TUHAN mendatangkan tulah atas Mesir dengan membunuh anak-anak sulung mereka dan menyelamatkan anak-anak sulung orang-orang Ibrani. Tulah ini adalah tulah terakhir atas Mesir sebelum orang-orang Ibrani diizinkan keluar dari negeri itu.

Pesakh biasanya dirangkaikan dengan Hari Raya Roti Tidak Beragi.

Shavu'oth
6-7 Siwan

* Shavu'oth atau juga disebut Hari Pentakosta, sebab Shavu'oth jatuh pada hari kelima puluh dalam kalender Ibrani. Shavu'oth adalah peringatan diberikannya hukum-hukum Taurat di Gunung Sinai. Pada hari raya ini, hasil-hasil panen pertama dibawa ke Bait Suci.