Firman Tuhan dalam kitab Wahyu 19:16 menyatakan : "Dan pada jubahNya dan pahaNya tertulis suatu nama, yaitu: 'Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan' ". Firman Tuhan ini menjelaskan bahwa banyak raja di dunia dan banyak tuan di muka bumi ini, tapi Yesus adalah Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Halleluyah, Puji Tuhan! Hal selanjutnya yang juga sangat dahsyat adalah kenyataan bahwa Yesus menjadi Raja sudah sejak keabadian dan sampai selama-lamanya. Alkitab menuliskan bahwa Dialah Yang Sudah Ada, Yang Ada, dan Yang Akan Datang. Jadi statusNya sebagai raja tidak akan beralih dan tidak akan hilang lenyap sampai kesudahan alam dan sampai selamanya. Halleluyah !
Seorang raja pastilah memiliki wilayah pemerintahan dan orang-orang yang diperintah dalam lingkungan kerajaannya. Demikian juga Yesus. Karena Dia Tuhan di atas segala tuan, maka Dia memiliki wilayah pemerintahan yang tidak terbatas dan tidak bisa dibatasi dengan teritorial manapun. Dia berkuasa atas seluruh bumi dan surga, dan bahkan alam maut sekalipun ada dalam lingkungan pemerintahanNya. Seluruh makhluk ciptaan apapun namanya adalah objek pemerintahanNya, dan tidak akan bisa lepas dari pengawasan mataNya(Efe 1:2) dan (Flp 2:10). KerajaanNya adalah kerajaan Imam (Why 1:6) dan kerajaan Mempelai. Secara de jure (hukum) dan de facto (realitas) Yesus adalah Raja kita satu-satunya. Dan bukan hanya untuk orang Kristen saja, tapi Dia juga Raja dan Tuan atas semua orang (Kis 10:36). Tapi pertanyaannya : Mengapa banyak orang tidak menjadikan Yesus sebagai Raja? Mengapa banyak orang tidak bersedia menjadi umatNya? Bagaimana kita tahu tentang hal itu dan dapat menilainya? Buahnyalah yang berbicara dan mengindikasikan apakah orang tersebut menjadikan Yesus sebagai Raja dalam kehidupannya atau tidak. Pertanyaan selanjutnya adalah : Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin orang-orang Kristen bahkan yang sudah lahir baru tidak secara otomatis menjadikan Yesus sebagai Raja dalam kehidupannya? Untuk menjawab hal ini, mari kita lihat beberapa point yang diajarkan dalam Alkitab :
Pertama :
Tuhan memberikan kita Free Will (kehendak bebas untuk memilih) sejak awal penciptaan dunia. Semua hal yang terjadi di dunia ini disebabkan pilihan manusia sendiri. Apakah dia mau mentaati Tuhan atau melawan Tuhan, semuanya itu terserah kepada pilihan manusia. Tuhan kita adalah Tuhan yang memberikan kebebasan. Dia Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati (Mat 11:29). Dia tidak pernah memaksa kita untuk taat kepadaNya, hanya untuk memuaskan keinginanNya. Itulah sebabnya ketika manusia salah pilih, maka manusia akan jatuh dalam dosa dan kesulitan. Adam dan Hawa adalah contoh yang nyata dari hal ini. Mereka memilih untuk tidak taat. Betapa besar konsekuensinya sehingga mereka melahirkan keturunan-keturunan yang mengandung dosa. Sejak itu hanya ketika manusia memilih untuk menerima Yesus sebagai juru selamat atas dasar anugerahNya karena pengorbanan salib, maka manusia diselamatkan. Untuk bisa menang di area ini, kita perlu menyerahkan kehendak bebas kita pada Tuhan dan membiarkan Dia memimpin kita.(Roma 10:8-10) Kita perlu mengakui Yesus bukan hanya sebagai Tuhan dan Juru Selamat saja, tapi juga sebagai Raja atas seluruh areal hidup kita. Menjadikan Yesus sebagai Raja berarti menyadari bahwa kita sepenuhnya ada dalam kontrolNya dan tidak ada lagi pemaksaan keinginan dan kehendak kita kepada Tuhan.
Kedua :
Kita sering kali merasa tidak nyaman dan tidak suka untuk diatur, diawasi, dipimpin dalam area yang secara daging tidak kita sukai. Kita lebih senang melakukan sesuatu kalau hal itu sesuai dengan keinginan kita dan kemauan kita tanpa peduli resiko dan konsekuensi di kemudian hari. Ini mengindikasikan bahwa kita tidak memiliki kedewasaan rohani. Keinginan daging selalu maut sedangkan keinginan roh selalu hidup dan damai sejahtera(Rom 8:6). Kalau saja kita mau sedikit berkorban dan menderita sesaat secara daging, maka kita akan menerima kemuliaan yang besar (Rom 8:18). Tapi untuk sampai pada level ini perlu kesadaran, iman, ketahanan yang memang tidak selalu mudah. Untuk itulah kita perlu mengenal karakter Tuhan, pribadi Tuhan, kasih Tuhan dan kuasa Tuhan. Tanpa pengenalan akan Tuhan, maka kita akan misunderstanding atau salah mengerti dengan Tuhan. Pikiran kita bertahun - tahun diprogram untuk melihat dan memikirkan hal-hal negatif. Inilah kendala utamanya. Perlu pembaharuan pikiran dengan mengenal Tuhan dan intim dengan Tuhan, maka kita tidak mudah curiga pada Tuhan dan tetap percaya padaNya sekalipun dalam realitas kehidupan seringkali terjadi pertentangan antara janji Tuhan dan perjalanan kehidupan.
Ketiga :
Semua usaha manusia, semua kemampuan manusia, semua daya upaya manusia telah divonis oleh Tuhan sebagai hal yang sia-sia. Hal ini terjadi karena semua berasal dari pohon pengetahuan yang baik dan buruk, bukan dari pohon kehidupan. Hanya dengan mengandalkan Tuhanlah yang akan mendatangkan berkat (Yer 17:5-8) Keberhasilan mengikuti Tuhan tidak ditentukan oleh skill/keterampilan kita. Juga bukan karena pengalaman atau pendidikan, bahkan koneksi atau backing yang kita pikir kuat. Keberhasilan hanya ada di dalam Tuhan dan ketergantungan yang penuh pada tuntunan Roh Kudus. Ketika kita menjadikan Yesus sebagai Raja, itu berarti kita mengatakan : "Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku tidak mengerti, dan aku menyerah kepadaMU. Silakan Engkau lakukan apa yang menjadi kehendakMU. Engkau Rajaku, Engkau penguasa dan pemilik hidupku !" Karena itulah kita perlu memohon pimpinanNya setiap hari dan bertanya kepadaNya atas setiap keputusan yang akan kita buat. Ini menjadikan hidup kita sebagai spiritual journey yang senantiasa berkembang dari iman kepada iman, dari kemuliaan kepada kemuliaan.
Dari semua penjelasan di atas kita dapat mengambil kesimpulan yang sederhana dan praktis bagaimana kita dapat menjadikan Yesus sebagai Raja dalam kehidupan kita.
1. Menjadikan Yesus sebagai Raja dimulai ketika kita mengakui dengan mulut kita bahwa Dia adalah Raja atas hidup kita dan menghidupinya dalam kehidupan sehari hari.
2. Menjadikan Yesus sebagai Raja berarti sepenuhnya Tuhan berkuasa atas hidup kita dalam penyerahan total dan tidak ada lagi hak kita untuk memaksakan kehendak kita.
3. Menjadikan Yesus sebagai Raja berarti kita hidup dengan cara Tuhan dan bukan cara kita. Semua harus ditanyakan kepada Tuhan, apapun keadaannya.
4. Menjadikan Yesus sebagai Raja berarti kita memasuki spiritual journey untuk mengenal Tuhan lebih lagi dan lebih lagi dengan keintiman yang semakin dalam.
5. Menjadikan Yesus sebagai Raja memungkinkan kita berjalan dari iman kepada iman, dari kemuliaan kepada kemuliaan.
So... Let's do it now ! Let Jesus be The King in our Life. God Bless You.....!!
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
1 komentar:
Tulisan Anda sangat inspiratif. Dalam rangka memuculkan penulis-penulis Kristen kreatif, akan diselenggarakan festival penulis dan pembaca kristiani. Salah satu pre-event adalah lomba menulis cerpen dan novelet berdasar Alkitab. Anda mungkin berminat untuk ikut? Info lengkap dapat Anda klik di Lomba Menulis Cerpen dan Novelet Berdasar Alkitab
Poskan Komentar